Sulitnya Memindahkan Produksi iPhone ke AS karena Teknologi dan Hukum
Finansial
Kebijakan Fiskal
26 Mei 2025
195 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Pemindahan produksi iPhone ke AS menghadapi banyak tantangan, termasuk teknologi dan biaya.
Donald Trump menggunakan ancaman tarif untuk mendorong Apple memproduksi di AS.
Perdebatan tentang kondisi darurat menunjukkan ketegangan antara kebijakan ekonomi dan hukum.
Presiden Donald Trump ingin Apple memindahkan seluruh proses perakitan iPhone dari luar negeri ke Amerika Serikat untuk memenuhi permintaan pasar AS. Ia bahkan berencana mengenakan tarif khusus pada iPhone yang dirakit di luar negeri supaya Apple terdorong membuka pabrik di dalam negeri.
Namun, rencana ini tidak mudah direalisasikan karena Apple saat ini memiliki pusat produksi utama di China dan India yang sudah matang. Trump juga mengancam perusahaan smartphone lain seperti Samsung akan terkena tarif impor jika produksinya tidak di AS mulai Juni 2025.
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menjelaskan bahwa teknologi otomatisasi tinggi dengan robot yang dibutuhkan untuk proses produksi di AS masih belum tersedia. Ini berarti produksi dengan skala besar dan presisi tinggi untuk iPhone belum bisa dilakukan secara efektif di AS.
Analis dari Wedbush, Dan Ives, menilai bahwa proses pemindahan produksi iPhone dari luar negeri ke AS bisa memakan waktu hingga 10 tahun dan membuat harga iPhone melonjak drastis, bahkan bisa mencapai US$ 3.500. Ia menyebut ide iPhone produksi Amerika adalah sesuatu yang tidak realistis.
Selain itu, ada juga hambatan hukum karena tidak ada undang-undang yang memberi Presiden AS kewenangan khusus untuk mengenakan tarif hanya pada perusahaan tertentu tanpa melalui proses penyelidikan. Bahkan terdapat tuntutan hukum dari beberapa negara bagian yang menggugat kenaikan tarif tersebut.
Analisis Ahli
Dan Ives
Perpindahan produksi iPhone ke AS memerlukan sekitar 10 tahun dan akan membuat harga iPhone naik signifikan, sehingga konsep iPhone produksi Amerika dianggap tak realistis.

