Ketegangan AS-China Memuncak Lagi Karena Pembatasan Chip AI Huawei
Teknologi
Kecerdasan Buatan
21 Mei 2025
3 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Tensi perdagangan antara AS dan Cina kembali meningkat, khususnya dalam sektor semikonduktor.
Cina mengancam tindakan hukum terhadap penerapan pembatasan ekspor AS pada Huawei.
Perubahan bimbingan oleh Departemen Perdagangan AS menunjukkan dinamika yang terus berubah dalam hubungan perdagangan antara kedua negara.
Kedua negara besar, Amerika Serikat dan China, baru saja memperbaiki hubungan dagang mereka setelah sebelumnya terjadi konflik dagang yang cukup serius. Namun kini, ketegangan kembali muncul, kali ini terkait penggunaan chip AI yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi asal China, Huawei.
Pemerintahan Amerika Serikat mengeluarkan sebuah pedoman pada pertengahan Mei yang memperingatkan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia agar tidak menggunakan chip AI buatan Huawei. Pedoman ini menegaskan hal tersebut melanggar aturan ekspor yang sudah berlaku di Amerika Serikat.
China sebagai negara asal Huawei memberikan reaksi keras terhadap pedoman ini. Mereka bahkan mengancam akan menggunakan jalur hukum terhadap siapa saja yang menjalankan aturan pembatasan ekspor tersebut, karena mereka menganggap ini adalah hambatan baru dalam hubungan dagang yang sudah mulai membaik.
Setelah mendapat protes dari China, Departemen Perdagangan Amerika Serikat akhirnya memutuskan untuk mengubah kata-kata dalam pedoman awalnya. Mereka menghilangkan frasa yang menyatakan pelarangan berlaku 'di seluruh dunia', sehingga mungkin arahnya menjadi lebih lunak.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa meskipun sudah ada upaya meredakan konflik dagang sebelumnya, isu teknologi dan keamanan tetap menjadi sumber ketegangan di antara kedua negara besar ini, terutama dalam bidang semikonduktor dan kecerdasan buatan.
Analisis Ahli
Gus Tate (analis teknologi)
Ketegangan semikonduktor ini mencerminkan bagaimana teknologi dan geopolitik kini saling terkait erat, mempersulit perdagangan bebas dan inovasi global.Dr. Mei Ling (pakar hubungan internasional)
Kebijakan ini sebenarnya memperkuat posisi China dalam mempertahankan kedaulatan teknologinya, dan akan memicu kebijakan serupa dari negara lain.

