Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Penemuan Genetik Unik Di Balik Warna Oranye Kucing Domestik

Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
News Publisher
15 Mei 2025
1258 dibaca
2 menit
Penemuan Genetik Unik Di Balik Warna Oranye Kucing Domestik

TLDR

Warna jingga pada kucing domestik disebabkan oleh mutasi genetik yang unik.
Kucing jantan lebih sering berwarna jingga karena mekanisme genetik yang terkait dengan kromosom X.
Penemuan gen Arhgap36 memberikan wawasan baru tentang pewarisan warna pada hewan.
Kucing dengan bulu oranye selalu menarik perhatian karena keunikan warna mereka yang berbeda dari kebanyakan hewan lain. Para peneliti di Stanford Medicine mengungkap bahwa mutasi genetik yang menyebabkan warna oranye pada kucing domestik terkait dengan kromosom X, berbeda dari warna oranye pada hewan lain yang dipengaruhi oleh gen selain kromosom seks.Perbedaan warna pada kucing juga dijelaskan oleh perbedaan jenis kelamin mereka. Kucing jantan yang memiliki satu kromosom X akan menunjukkan warna oranye jika mewarisi mutasi tersebut, sedangkan kucing betina memerlukan mutasi ini pada kedua kromosom X agar memiliki warna oranye penuh. Hal ini juga menjelaskan kenapa kucing jantan oranye lebih umum dibanding betina.Pada kucing betina yang hanya punya satu kromosom X dengan mutasi oranye, muncul pola warna unik seperti tortoiseshell atau calico. Ini terjadi karena fenomena inaktivasi X secara acak, yang membuat bagian-bagian sel dengan warna oranye dan tidak oranye muncul secara bercampur di tubuh mereka.Peneliti berhasil menyempitkan mutasi ini ke sebuah varian gen di sekitar gen Arhgap36 pada kromosom X. Meski sebelumnya gen ini dikenal hanya terkait dengan kanker dan perkembangan neuroendokrin, mutasi ini membuat gen Arhgap36 aktif di sel pigmen kucing, yang tidak terjadi pada hewan lain ataupun kucing non-oranye.Temuan ini penting bukan hanya dalam memahami genetika warna kucing, tetapi juga memberikan wawasan baru tentang bagaimana mutasi kecil pada gen dapat menyebabkan sifat-sifat baru yang unik dalam evolusi molekuler. Studi ini dipublikasikan di Current Biology.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.