Ilmuwan Kejar Satelit Jatuh untuk Teliti Polusi Atmosfer akibat Puing Antariksa
Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
05 Mei 2025
226 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Penelitian tentang reentry satelit penting untuk memahami dampak lingkungan dari puing-puing luar angkasa.
Satelit Salsa memberikan data berharga tentang polusi atmosfer yang dihasilkan dari reentry.
Regulasi yang lebih ketat diperlukan untuk mengatasi masalah puing-puing luar angkasa dan melindungi keselamatan di Bumi.
Sebuah tim ilmuwan dari Institut Sistem Luar Angkasa di Universitas Stuttgart, Jerman, mengejar pesawat ruang angkasa yang jatuh menggunakan pesawat terbang untuk menyelidiki dampak reentry satelit dan puing-puing ruang angkasa terhadap atmosfer Bumi. Mereka melacak reentry atmosfer dari Salsa, salah satu satelit Cluster ESA, yang terbakar di atas Samudra Pasifik pada awal September 2024.
Meskipun kondisi siang hari yang cerah sedikit mempersulit penyelidikan, tim berhasil mengumpulkan data penting. Mereka mendeteksi pelepasan beberapa senyawa kimia seperti litium, kalium, dan aluminium selama reentry. Namun, efek polusi dari pembakaran puing-puing ruang angkasa terhadap atmosfer Bumi masih kurang dipahami.
Tim berharap untuk mengumpulkan lebih banyak data saat satelit Cluster lainnya – Rumba, Tango, dan Samba – jatuh ke Bumi nanti tahun ini dan pada 2026. Selain dampak lingkungan, puing-puing ruang angkasa juga berpotensi merusak properti dan membahayakan manusia di Bumi. Para ilmuwan semakin memperingatkan bahwa lebih banyak penelitian dan regulasi diperlukan untuk mengatasi masalah ini.
Analisis Ahli
Stefan Löhle
Penjelasan bahwa fragmen satelit bergerak lebih lambat dan menghasilkan radiasi yang lebih sedikit mengindikasikan banyak hal yang belum kita pahami tentang mekanisme fragmentasi satelit dalam atmosfer.Samantha Lawler
Menekankan bahwa perhatian regulator terhadap masalah puing antariksa kemungkinan baru muncul setelah adanya insiden fatal, yang menunjukkan perlunya tindakan preventif sekarang.

