Pertarungan Hukum Exxon Chevron Tentukan Masa Depan Ladang Minyak Stabroek
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
02 Mei 2025
160 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Sengketa antara Exxon dan Chevron terkait akuisisi Hess berfokus pada hak penolakan pertama.
Sidang arbitrasi dijadwalkan pada 26 Mei di London.
Blok Stabroek memiliki potensi besar dengan lebih dari 11 miliar barel minyak yang dapat dipulihkan.
Kamar Dagang Internasional telah menjadwalkan sidang arbitrase pada 26 Mei di London terkait sengketa antara Exxon Mobil dan Chevron mengenai akuisisi Hess. Sengketa ini berpusat pada ladang minyak Stabroek di lepas pantai Guyana, yang merupakan penemuan minyak terbesar dalam dekade terakhir. Akuisisi Chevron terhadap Hess senilai Rp 885.10 triliun ($53 miliar) telah tertunda selama hampir 18 bulan karena sengketa ini.
Exxon dan CNOOC mengklaim bahwa perjanjian operasi bersama mereka di blok Stabroek memberi mereka hak penolakan pertama untuk membeli saham Hess. Namun, Chevron dan Hess berpendapat bahwa hak penolakan pertama tidak berlaku untuk merger mereka. Sidang arbitrase ini akan menentukan apakah klaim hak penolakan pertama tersebut berlaku atau tidak.
Ladang minyak Stabroek sangat penting bagi Chevron karena telah memompa lebih banyak minyak daripada yang diperkirakan sebelumnya dan akan memberikan dorongan material pada total produksi minyak Chevron. Selain itu, ladang ini akan menambah cadangan minyak dan gas Chevron yang telah mencapai titik terendah dalam setidaknya satu dekade pada akhir 2024. Chevron juga telah membeli 4,99% saham umum Hess di pasar terbuka sebagai tanda kepercayaan dalam menyelesaikan akuisisi ini.
Analisis Ahli
Daniel Yergin (Analis Energi Terkenal)
Kasus ini tidak hanya soal bisnis tapi juga tentang pengaruh geopolitik di kawasan Guyana dan masa depan pasokan minyak AS. Keputusan arbitrase akan berdampak besar pada dinamika industri energi global.