TikTok Dominasi Video Pendek, Monetisasi Jadi Tantangan Pesaing Besar
Bisnis
Marketing
29 Apr 2025
127 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
TikTok memiliki lebih dari 1,12 miliar pengguna aktif bulanan dan menjadi pusat internet bagi generasi muda.
Platform lain seperti Meta dan YouTube berusaha mengejar ketertinggalan dengan fitur serupa, tetapi belum ada yang menandingi algoritma TikTok.
Monetisasi konten pendek tetap menjadi tantangan bagi kreator, meskipun TikTok menghasilkan pendapatan iklan yang besar.
TikTok semakin populer dan mendominasi dunia video pendek sejak diluncurkan secara global pada 2016. Aplikasi ini kini memiliki lebih dari 1,12 miliar pengguna aktif bulanan, dengan pengguna di AS menghabiskan rata-rata 108 menit per hari di platform ini. Kesuksesan TikTok memaksa raksasa teknologi Amerika seperti Meta dan Google untuk mengekor dengan menghadirkan fitur serupa.
Meski berbagai inovasi terus bermunculan, seperti e-commerce di TikTok hingga video berdurasi lebih panjang, para pesaing tetap kesulitan mengejar aplikasi asal China ini. TikTok meraup pendapatan iklan sekitar Rp 394.12 triliun (US$23,6 miliar) tahun lalu, namun monetisasi video pendek tetap menjadi tantangan bagi para kreator. YouTube Shorts misalnya, membayar sekitar empat sen untuk setiap 1.000 tayangan, jauh lebih kecil dibandingkan konten YouTube berdurasi panjang.
Di tengah pengawasan ketat terhadap kepemilikan TikTok oleh China dan ancaman larangan di Amerika Serikat, pesaing seperti Meta dan YouTube melihat peluang emas. Menurut eMarketer, kedua platform itu berpotensi merebut hingga 50% dari belanja iklan yang akan dialihkan jika TikTok benar-benar dibatasi di AS. Meski demikian, monetisasi Reels dan Shorts masih dalam tahap pengembangan dan belum mampu menandingi kecanggihan algoritma TikTok.
Analisis Ahli
Jasmine Enberg
TikTok adalah pusat internet bagi generasi muda, memanfaatkan algoritma canggih yang belum mampu disaingi oleh platform lain.


