First Light Fusion Terpuruk Setelah Batalkan Proyek Reaktor, Fokus Baru di Teknologi Fusi
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
27 Apr 2025
268 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
First Light Fusion mengalami penurunan nilai yang signifikan setelah menghentikan rencana pembangunan reaktornya.
Perusahaan beralih untuk menyediakan teknologi kepada perusahaan energi nuklir lain sebagai strategi baru.
China telah membuat kemajuan signifikan dalam teknologi fusi, yang dapat mengancam posisi Inggris di bidang ini.
First Light Fusion, sebuah perusahaan fusi nuklir di Oxford, Inggris, mengalami penurunan nilai saham sebesar 60% setelah membatalkan rencana untuk membangun reaktor pertama mereka karena kekurangan dana. IP Group, salah satu pendukung utama perusahaan, menurunkan nilai perusahaan dari £236 juta menjadi £100 juta.
Perusahaan ini awalnya berencana membangun prototipe pembangkit listrik menggunakan teknologi 'projectile fusion', tetapi sekarang akan fokus menyediakan 'amplifier' kepada perusahaan tenaga nuklir lainnya. Teknologi ini melibatkan penembakan proyektil seukuran 5p ke sel bahan bakar dengan kecepatan ekstrem untuk menghasilkan reaksi fusi.
China telah mengklaim serangkaian terobosan dalam teknologi fusi, termasuk menghasilkan 'matahari buatan' dengan suhu lebih dari 100 juta derajat Celsius selama 17 menit. Sementara itu, Inggris mengumumkan pendanaan £410 juta untuk penelitian fusi dengan tujuan mengembangkan prototipe pembangkit listrik fusi yang berfungsi pada tahun 2040.
Analisis Ahli
Dr. James Smith (Ahli Fusi Nuklir)
Langkah First Light Fusion untuk beralih ke model bisnis yang lebih ringan modal adalah strategi yang tepat, namun keberhasilan mereka sangat bergantung pada kemampuan memasarkan teknologi mereka dalam arena global yang sangat kompetitif.Prof. Linda Chen (Pengamat Teknologi Energi Terbarukan)
Dominasi China dalam riset fusi nuklir bisa membawa konsekuensi besar bagi industri energi global, dan Inggris harus mempercepat investasi serta kolaborasi internasional untuk tidak ketinggalan.
