AI Bisa Dongkrak Ekonomi tapi Risiko Emisi Karbon Makin Tinggi
Teknologi
Kecerdasan Buatan
23 Apr 2025
153 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Perubahan iklim yang disebabkan oleh emisi karbon semakin mendesak untuk ditangani.
Kecerdasan buatan memiliki potensi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan permintaan energi dan emisi karbon.
Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan teknologi, dan perusahaan energi sangat penting untuk memastikan penggunaan AI yang berkelanjutan.
Suhu Bumi semakin panas akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh emisi karbon. Januari 2025 tercatat sebagai Januari terpanas sepanjang sejarah, dengan suhu permukaan rata-rata 13,23 derajat Celcius. Data ini menunjukkan pentingnya upaya untuk menurunkan emisi karbon dan gas rumah kaca.
Di tengah dilema ini, Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkap bahwa pertumbuhan ekonomi dari AI diprediksi akan menggenjot kenaikan produksi barang dan jasa global sekitar 0,5% antara tahun 2025 dan 2030. Meski AI membutuhkan daya listrik yang besar dan berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon, IMF menyatakan bahwa manfaat ekonomi dari AI lebih besar daripada biaya tambahan untuk menanggulangi emisi.
Namun, peningkatan emisi karbon ini membutuhkan komitmen nyata dari para raksasa teknologi dunia untuk mengurangi emisi dari data center dengan meningkatkan penggunaan energi ramah lingkungan. Analis independen menekankan bahwa dampak ekonomi dan lingkungan dari AI akan sangat bergantung pada bagaimana AI digunakan. Pemerintah, perusahaan teknologi, dan perusahaan energi harus berperan aktif dalam memastikan AI digunakan secara sengaja, adil, dan berkelanjutan.
Analisis Ahli
Roberta Pierfederici
Kekuatan pasar saja tidak cukup untuk mengarahkan AI ke aksi iklim yang tepat, sehingga pemerintah dan pelaku bisnis harus aktif memastikan AI digunakan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

