Indonesia Waspadai Lonjakan Gempa dan Risiko Megathrust yang Mengancam
Sains
Iklim dan Lingkungan
19 Apr 2025
161 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Indonesia berada di jalur lempeng tektonik yang membuatnya rawan gempa dan tsunami.
Aktivitas kegempaan di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
BMKG terus memantau dan memberikan informasi terkait potensi bencana untuk mitigasi yang lebih baik.
Indonesia berada di jalur pertemuan tiga lempeng tektonik dalam cakupan Cincin Api Pasifik, membuatnya rawan gempa dan tsunami. BMKG mencatat setidaknya ada 6.000 kali kejadian gempa yang mengguncang Indonesia setiap tahunnya. Sepanjang April 2025, BMKG mencatat lebih dari 195 kejadian gempa di wilayah Indonesia, dengan 30 gempa berkekuatan di atas M5,0 sejak 3 Maret 2025 hingga 14 April 2025.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan bahwa kejadian gempa bumi di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Ada 14 segmen sumber gempa subduksi/megathrust dan 402 segmen sumber gempa sesar aktif yang sudah teridentifikasi di Indonesia. Terjadi lonjakan kejadian gempa yang signifikan di tahun 2024 dengan 29.869 kali kejadian gempa, dan pada tahun 2024 ada 20 gempa di Indonesia yang sifatnya merusak.
Dwikorita juga mengingatkan pentingnya pendekatan mitigasi bencana geohidrometeorologi. BMKG harus terus mewaspadai zona seismic gap yang ada di Selatan Banten dan Selat Sunda serta di Wilayah Mentawai-Siberut. Megathrust Selat Sunda sudah mencapai 267 tahun dan megathrust Mentawai-Siberut sudah 227 tahun, sehingga BMKG harus bersiap untuk kemungkinan terjadinya gempa besar di wilayah tersebut.
Analisis Ahli
Dwikorita Karnawati
Menyatakan bahwa tren gempa di Indonesia meningkat dan sangat penting untuk fokus pada mitigasi bencana geohidrometeorologi serta mewaspadai zona seismic gap yang belum melepaskan energi selama ratusan tahun.

