AI summary
Tarif resiprokal yang diumumkan Trump diduga menggunakan perhitungan dari AI. Perhitungan tarif dapat dilakukan dengan rumus sederhana berdasarkan defisit perdagangan. Gedung Putih berencana untuk mempublikasikan rumus yang digunakan untuk menghitung tarif tersebut. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan tarif resiprokal yang diduga berasal dari perhitungan buatan Artificial Intelligence (AI). Ekonom James Surowiecki menjelaskan bahwa tarif tersebut bisa dihitung dengan cara sederhana, yaitu membagi defisit perdagangan suatu negara dengan total ekspor negara tersebut ke AS. Hasilnya akan memberikan angka tarif yang bisa digunakan.Beberapa pengguna media sosial juga mencoba menghitung tarif ini dengan menggunakan chatbot seperti ChatGPT dan lainnya. Mereka menemukan bahwa rumus yang dihasilkan oleh chatbot tersebut sama, yaitu defisit perdagangan dibagi ekspor. Ini menunjukkan bahwa perhitungan tarif bisa dilakukan dengan mudah.Namun, pihak Gedung Putih membantah bahwa tarif tersebut hanya berasal dari AI dan berjanji akan mempublikasikan rumus yang digunakan. Kebijakan ini membebankan tarif impor yang berbeda-beda untuk setiap negara, tergantung pada defisit perdagangan yang ditimbulkan. Contohnya, Indonesia dikenakan tarif sebesar 32%.
Penggunaan AI dalam pembuatan kebijakan publik memang bisa mempercepat proses, tapi jika transparansi tidak terjaga, hal ini bisa menimbulkan keraguan dan ketidakpercayaan masyarakat. Pemerintah harus lebih terbuka dengan metodologi mereka agar kebijakan bisa diterima secara luas dan tidak dianggap sekadar hasil eksperimen teknologi.