Putin Kembali Berikan Aset ke Perusahaan Barat, Ada Harapan Bisnis Bangkit
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
28 Mar 2025
101 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Putin mengubah keputusan mengenai aset perusahaan asing sebagai strategi untuk memecah belah Eropa.
Perusahaan Barat mulai mempertimbangkan untuk kembali ke Rusia meskipun ada risiko tinggi.
Sanksi dan penyitaan aset telah menciptakan ketegangan antara Rusia dan negara-negara Barat.
Vladimir Putin, Presiden Rusia, baru-baru ini mengeluarkan dekrit yang mengembalikan kepemilikan perusahaan pemanas asal Italia, Ariston, kepada pemiliknya setelah sebelumnya mengambil alih perusahaan tersebut. Ini menunjukkan kemungkinan bagi perusahaan Barat untuk mendapatkan kembali aset yang disita oleh Rusia setelah invasi ke Ukraina. Sejak invasi dimulai, perusahaan Barat telah mengalami kerugian besar, mencapai Rp 2.79 quadriliun ($167 miliar) , dan banyak yang terpaksa menjual aset mereka dengan harga sangat murah.
Beberapa perusahaan Barat, seperti Renault, sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Rusia, meskipun mereka harus membayar biaya yang tinggi untuk melakukannya. Namun, ada kekhawatiran bahwa Putin mungkin menggunakan perusahaan Barat sebagai alat untuk memecah belah Eropa dan Amerika Serikat. Banyak perusahaan yang kehilangan aset mereka kini berjuang melalui jalur hukum untuk mendapatkan kompensasi, tetapi menegakkan keputusan hukum di Rusia sangat sulit.
Meskipun ada tantangan, beberapa perusahaan mulai melihat peluang untuk kembali beroperasi di Rusia, terutama dengan perubahan sikap dari pejabat AS yang menyarankan untuk membuka kembali hubungan ekonomi. Beberapa investor bahkan mulai mempertimbangkan untuk berinvestasi di pasar saham Rusia, berharap akan ada kesepakatan damai di masa depan.
Analisis Ahli
Ian Massey
Aset barat di Rusia menjadi alat tawar menawar penting dalam negosiasi di tengah pembekuan aset luar negeri, sehingga penegakan hukum terhadap putusan arbitrase menjadi sangat sulit.Patrick Sewell
Kehadiran bisnis Barat di Rusia menjadi leverage Kremlin dalam negosiasi dengan Eropa, dan keputusan Putin memperlihatkan taktik memecah belah negara-negara EU berdasarkan sikap politik mereka terhadap Rusia.