Dilema Indonesia dalam Mengimpor Kedelai: Antara Kebutuhan dan GMO
Bisnis
Ekonomi Makro
19 Mar 2025
124 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Indonesia masih sangat bergantung pada impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Produksi kedelai dalam negeri masih jauh dari target, sehingga perlu strategi untuk meningkatkan hasil pertanian.
Penggunaan benih GMO menjadi perdebatan penting dalam upaya meningkatkan produksi kedelai di Indonesia.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prastyo Adi, menjelaskan bahwa Indonesia sangat bergantung pada impor kedelai karena produksi dalam negeri masih jauh dari kebutuhan. Pada tahun 2024, kebutuhan kedelai diperkirakan mencapai 2,65 juta metrik ton, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 167.886 metrik ton. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Indonesia diprediksi akan mengimpor sekitar 2,6 juta metrik ton kedelai pada tahun 2025.
Arief juga menyebutkan bahwa masalah produksi kedelai di Indonesia terkait dengan luas lahan dan jenis benih yang digunakan. Saat ini, Indonesia masih menggunakan benih biasa, sementara negara lain sudah menggunakan benih GMO (Organisme yang Dimodifikasi Secara Genetik) yang lebih produktif. Ia berharap penggunaan GMO bisa dibahas lebih lanjut dengan kementerian terkait, meskipun ada kekhawatiran tentang dampaknya terhadap kesehatan.
Analisis Ahli
Arief Prastyo Adi
Mengakui tantangan produksi kedelai nasional dan menekankan pentingnya strategi yang matang terkait impor kedelai terutama yang GMO agar dapat memenuhi kebutuhan nasional.Pakar Pertanian Nasional
Mendorong modernisasi pertanian dengan benih unggul dan teknologi GMO untuk meningkatkan produksi lokal yang berkelanjutan.

