AI summary
IHSG mengalami penurunan signifikan akibat defisit APBN dan isu politik. Rumor mengenai pengunduran Sri Mulyani berdampak negatif pada kepercayaan investor asing. Daya beli masyarakat yang rendah mempengaruhi permintaan barang dan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia mengalami penurunan drastis hingga 7% pada 18 Maret 2025, mencapai level terendah sejak pandemi Covid-19. Penurunan ini disebabkan oleh banyak faktor, termasuk defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp31,2 triliun dan penurunan penerimaan pajak sebesar 20,85%. Selain itu, rumor tentang pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani juga membuat investor khawatir, sehingga banyak yang menjual saham mereka.Meskipun IHSG sempat turun tajam, pada sesi kedua perdagangan, IHSG mulai pulih sedikit. Banyak saham unggulan, terutama dari bank besar dan perusahaan teknologi, mengalami penurunan harga. Aksi jual besar-besaran oleh investor asing juga berkontribusi pada penurunan ini, dengan total penjualan bersih mencapai Rp57,8 triliun dalam enam bulan terakhir. Ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan perdagangan dari Amerika Serikat juga menjadi faktor yang membuat investor lebih berhati-hati.
Kejatuhan IHSG bukan hanya akibat faktor teknis di pasar saham, tapi juga refleksi nyata dari rapuhnya kondisi fiskal dan daya beli di Indonesia saat ini yang butuh penanganan segera. Rumor politik seperti isu pengunduran diri Sri Mulyani harusnya bisa diredam dengan komunikasi publik yang lebih transparan agar tidak memperparah tekanan di pasar finansial.