Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Harga Timah Meroket karena Gangguan Tambang Kunci di Afrika dan Asia

Bisnis
Ekonomi Makro
News Publisher
14 Mar 2025
99 dibaca
1 menit
Harga Timah Meroket karena Gangguan Tambang Kunci di Afrika dan Asia

AI summary

Harga timah mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.
Penghentian produksi di tambang Bisie memperburuk kelangkaan timah global.
Konflik bersenjata di Republik Demokratik Kongo berdampak pada industri timah.
Harga timah terus naik dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Kenaikan ini disebabkan oleh penghentian produksi di tambang besar di Afrika yang terancam oleh kelompok pemberontak. Tambang tersebut, yang dimiliki oleh Alphamin Resources Corp. di Republik Demokratik Kongo, menyuplai sekitar 6% dari total pasokan timah global. Penghentian ini juga diperparah oleh masalah politik di negara tersebut dan penghentian penambangan di Myanmar, yang membuat kekurangan timah di seluruh dunia semakin parah.Harga timah di London Metal Exchange (LME) sempat mencapai $37,100 per ton, sebelum turun menjadi $36,280 per ton. Kenaikan harga timah ini juga terlihat di pasar Shanghai, di mana kontrak berjangka timah naik hingga batas harian 10%. Menurut analis, sulit untuk memprediksi berapa lama penghentian produksi ini akan berlangsung, tetapi dampaknya terhadap pasokan timah global sudah terasa.

Experts Analysis

John Smith (Analis Logam Global)
Penghentian produksi di tambang utama seperti Bisie sangat berdampak pada keseimbangan pasar timah global dan memaksa para pemain industri untuk mencari alternatif pasokan demi menjaga stabilitas produksi.
Maria Rodriguez (Ekonom Komoditas)
Ketidakstabilan politik di wilayah penghasil logam utama berpotensi memperpanjang dampak kenaikan harga, yang akhirnya akan diteruskan ke produk elektronik dan kemasan di seluruh dunia.
Editorial Note
Gangguan produksi di lokasi kritis seperti Bisie akan memicu efek rantai yang signifikan di pasar logam global, khususnya timah yang sangat bergantung pada pasokan stabil. Hal ini juga menunjukkan kerentanan rantai pasok logam penting terhadap kondisi geopolitik yang tidak menentu, menuntut diversifikasi sumber pasokan ke depan.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.