Regulasi Ketat Membuat Bank Jepang Ragu Jual Pinjaman Terstruktur Senilai Rp 1.12 quadriliun ($67 Miliar)
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
11 Mar 2025
174 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Regulator Jepang meningkatkan pengawasan terhadap produk pinjaman terstruktur yang dapat mempengaruhi pasar.
Bank regional di Jepang menghadapi tantangan dalam manajemen risiko terkait investasi mereka.
Permintaan untuk obligasi pemerintah Jepang yang dikemas ulang telah meningkat, tetapi daya tariknya mulai berkurang seiring dengan kenaikan suku bunga.
Perusahaan pialang terbesar di Jepang mulai ragu untuk menjual pinjaman terstruktur kepada bank-bank regional setelah regulator keuangan Jepang mengumumkan pengawasan ketat terhadap pasar yang bernilai Rp 1.12 quadriliun ($67 miliar) ini. Pinjaman terstruktur ini, yang sering kali melibatkan obligasi pemerintah Jepang yang dikemas ulang, menarik perhatian karena risiko yang mungkin tidak dikelola dengan baik oleh pembeli. Regulator khawatir bahwa beberapa bank lokal tidak memiliki manajemen risiko yang tepat dan bisa mengalami kerugian jika suku bunga pasar bergerak melawan mereka.
Meskipun produk ini sesuai dengan hukum Jepang, kekhawatiran akan pengawasan lebih lanjut membuat para penjual dan pembeli berpikir dua kali. Beberapa perusahaan pialang, seperti Nomura dan Mizuho, sedang meninjau kembali pendekatan mereka terhadap produk ini. Sementara itu, bank-bank regional di Jepang, yang biasanya tidak memiliki keahlian investasi yang luas, masih mencari cara untuk mendapatkan pendapatan dari investasi, terutama di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi oleh daerah mereka.
Analisis Ahli
Toshinori Yashiki
Kekhawatiran utama adalah kurangnya manajemen risiko yang memadai di beberapa pembeli yang bisa mengakibatkan kerugian besar apabila suku bunga pasar bergerak tidak menguntungkan.Hiroshi Toyoda
Walaupun permintaan terhadap repackaged JGB mulai menurun, produk ini masih memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan pinjaman tradisional ketika suku bunga naik.