Kontroversi dan Kesuksesan Pameran Seni AI Pertama Christie’s
Teknologi
Kecerdasan Buatan
07 Mar 2025
90 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Pameran 'Augmented Intelligence' oleh Christie's berhasil meskipun ada penolakan dari seniman.
Karya seni yang dihasilkan oleh AI dapat mencapai harga tinggi di pasar seni.
Ada ketegangan antara seniman tradisional dan penggunaan teknologi AI dalam menciptakan seni.
Sekitar 6.500 seniman menandatangani surat terbuka yang meminta rumah lelang seni Christie’s untuk membatalkan pameran pertama yang khusus menampilkan karya seni yang dibuat dengan kecerdasan buatan (AI). Meskipun ada penolakan dari banyak seniman, pameran yang berjudul "Augmented Intelligence" tetap berlangsung dan berhasil menarik perhatian, menghasilkan lebih dari Rp 11.69 juta ($700.000) . Karya termahal dalam pameran tersebut adalah "Machine Hallucinations — ISS Dreams — A" karya Refik Anadol, yang terjual seharga Rp 4.63 juta ($277.200) .
Nicole Sales Giles, wakil presiden Christie’s, mengatakan bahwa kesuksesan pameran ini menunjukkan bahwa kolektor seni menghargai "suara kreatif yang mendorong batasan seni." Namun, banyak seniman merasa sebaliknya. Mereka mengklaim bahwa Christie’s menampilkan karya yang dibuat dengan model AI yang dilatih menggunakan karya berhak cipta tanpa izin, yang dianggap mengeksploitasi seniman manusia dengan menggunakan karya mereka tanpa izin untuk membuat produk yang bersaing.
Analisis Ahli
Nicole Sales Giles
Kesuksesan pameran ini menunjukkan bahwa pasar seni mulai menerima dan menghargai kreativitas yang dihasilkan dengan AI sebagai bentuk ekspresi baru.

