Ketegangan Dagang AS-China Dorong Harga Emas Stabil Hingga Mendekati Rekor
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
04 Mar 2025
291 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Ketegangan perdagangan antara AS dan China mempengaruhi harga emas.
Data ekonomi yang lemah di AS dapat mendorong penurunan suku bunga.
Investor mencari aset aman seperti emas di tengah ketidakpastian global.
Emas tetap stabil setelah China mengenakan tarif pada barang pertanian AS sebagai balasan terhadap kebijakan tarif yang diterapkan oleh pemerintahan Trump. Hal ini menambah kekhawatiran tentang kemungkinan perang dagang global yang dapat meningkatkan permintaan untuk aset aman seperti emas. Harga emas diperdagangkan sekitar Rp 48.26 juta ($2,890) per ons setelah mengalami kenaikan 1,2% pada hari Senin. Sementara itu, data ekonomi AS yang lemah, termasuk penurunan belanja pribadi dan meningkatnya klaim pengangguran, membuat pasar memperkirakan bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga, yang biasanya membuat emas lebih menarik sebagai investasi.
Meskipun harga emas mencapai rekor tertinggi lebih dari Rp 49.27 juta ($2,950) per ons pada 24 Februari, harga tersebut mengalami penurunan mingguan pertama di akhir Februari karena aksi ambil untung. Analis dari Goldman Sachs memperkirakan bahwa ketidakpastian kebijakan yang tinggi, termasuk kekhawatiran tentang tarif, dapat mendorong harga emas naik hingga Rp 55.11 juta ($3,300) per ons pada akhir tahun. Saat ini, harga emas stabil di Rp 48.26 juta ($2,890) .31 per ons, sementara harga perak dan platinum tidak banyak berubah, dan harga paladium mengalami penurunan.
Analisis Ahli
Goldman Sachs Group Inc.
Elevated policy uncertainty including tariff fears could push gold prices as high as $3,300 an ounce by year-end.