Pasar saham di Asia mengalami penurunan setelah saham China dibuka lebih rendah, karena investor merasa waspada terhadap ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Meskipun ada harapan bahwa kebijakan stimulus dari Beijing dapat meningkatkan pasar, ketidakpastian tetap tinggi setelah AS memberlakukan tarif 10% pada barang impor dari China, yang direspons oleh Beijing dengan tarif tambahan pada sekitar 80 produk. Beberapa analis percaya bahwa jika negosiasi perdagangan antara kedua negara dapat ditunda, itu akan baik untuk pasar, tetapi ada juga kekhawatiran bahwa ketegangan ini dapat meningkat lagi.Sementara itu, aktivitas manufaktur di China menunjukkan hasil yang lebih lemah dari yang diharapkan, dan nilai tukar yuan mengalami tekanan. Di Jepang, saham juga turun seiring dengan penguatan yen, yang dipicu oleh harapan bahwa Bank of Japan akan terus menaikkan suku bunga. Di pasar komoditas, harga minyak sedikit menurun karena kekhawatiran bahwa perang dagang dapat mempengaruhi pertumbuhan global. Secara keseluruhan, pasar saham di berbagai negara menunjukkan volatilitas yang tinggi akibat ketidakpastian ini.
Ketidakpastian yang dibawa oleh ketegangan perdagangan saat ini jelas mengguncang pasar regional dan global, tetapi respons Beijing yang terukur dapat membantu menahan kerugian yang lebih besar. Namun, jika masalah ekonomi fundamental China memburuk, terutama data manufaktur dan nilai tukar, pasar bisa mengalami tekanan lebih dalam lagi.