DeepSeek, sebuah perusahaan AI dari China, mengejutkan pasar AI dengan model baru mereka yang mirip dengan ChatGPT, yaitu R1, yang mendapatkan banyak pujian dengan biaya pengembangan yang jauh lebih rendah. Hal ini membuat OpenAI, perusahaan yang mengembangkan ChatGPT, merasa tertekan. Sebagai respons, OpenAI meluncurkan fitur baru bernama Deep Research, yang dapat melakukan penelitian online dengan cepat, menganalisis berbagai jenis data dalam waktu 5 hingga 30 menit. Fitur ini diharapkan dapat membantu dalam pengembangan kecerdasan buatan umum (AGI) yang mampu menghasilkan penelitian ilmiah baru.Namun, ada pertanyaan tentang apakah AI seperti Deep Research benar-benar dapat menggantikan penelitian ilmiah yang dilakukan manusia. Meskipun AI dapat mengolah dan menyusun informasi dengan cepat, banyak peneliti merasa bahwa kreativitas dan inspirasi yang muncul dalam penelitian manusia tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin. Selain itu, model AI ini masih memiliki keterbatasan, seperti kemungkinan memberikan informasi yang salah atau terlalu percaya diri. Ini menimbulkan kekhawatiran tentang bagaimana AI akan digunakan dalam tindakan nyata di masa depan, terutama ketika penelitian dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan AI dalam mengkonsolidasikan dan menganalisis data secara cepat jelas membantu percepatan riset, tapi masih sangat terbatas dalam menciptakan ide atau metode baru yang benar-benar inovatif. Fokus utama harus pada pengembangan AI yang sadar akan ketidakpastian dan mampu berkolaborasi dengan manusia, bukan menggantikan mereka sepenuhnya.