TLDR
Hujan dapat meningkatkan kecepatan glacier hingga 251 persen selama fase aliran lambat. Perubahan kecepatan glacier dipengaruhi oleh efisiensi sistem drainase, yang bervariasi antara fase surge dan quiescent. Penelitian ini menunjukkan bahwa sistem drainase glacier tidak hanya beralih antara dua konfigurasi selama siklus surge. Pomodo.id - Curah hujan yang tinggi dapat mempercepat pergerakan gletser di Alaska hingga 251 persen, seperti yang ditemukan dalam sebuah studi terbaru. Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti di Boise State University, yang menganalisis pengukuran GPS dari Turner Glacier (Sít’ Kusá) di Alaska. Mereka membandingkan perubahan kecepatan yang diakibatkan oleh hujan selama periode surga gletser antara 2020 hingga 2021 dengan periode aliran lambat dari 2022 hingga 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa hujan tidak hanya mempengaruhi kecepatan gletser selama fase surga, tetapi juga pada fase diamnya, meskipun frekuensi dan durasi pekali percepatan ini berbeda tergantung pada keadaan gletser.Para peneliti menggunakan 10 catatan kecepatan permukaan gletser yang dikumpulkan dari alat GPS dan memperbandingkannya dengan perkiraan curah hujan yang terukur di stasiun cuaca dekat Yakutat Airport. Selama periode surga dari 2020 hingga 2021, sekitar 56 persen dari 16 kejadian hujan besar tercatat menghasilkan kecepatan anomal pada gletser tersebut, mengindikasikan bahwa hujan memiliki dampak signifikan terhadap dinamika gletser. Saat menganalisis data tersebut, metode yang digunakan meliputi pengamatan posisi gletser setiap 15 detik, yang memberikan gambaran detail tentang respons gletser terhadap kenaikan curah hujan.Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua gletser akan merespons dengan cara yang sama. Meskipun Turner Glacier menunjukkan peningkatan kecepatan yang signifikan, ini mungkin tidak dapat diterapkan pada semua gletser di dunia. Setiap gletser memiliki kondisi unik yang dapat mempengaruhi responsnya terhadap cuaca. Selain itu, perubahan cuaca dan iklim global yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia juga menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pola cuaca jangka panjang di wilayah gletser.
Hujan dapat berfungsi sebagai pendorong utama perubahan kecepatan gletser, khususnya selama fase surga, di mana aliran gletser meningkat jauh lebih cepat dari biasanya. Ini penting karena memahami dinamikanya dapat membantu kita menduga dampak perubahan iklim. Dengan mencermati gletser di Alaska, kita juga mendapatkan gambaran tentang bagaimana gletser lain mungkin bereaksi, meningkatkan kesadaran tentang ancaman perubahan iklim yang lebih luas.
Pengembangan ini berdampak langsung pada pemahaman kita mengenai bagaimana iklim yang berubah dapat mempengaruhi seluruh ekosistem, yang termasuk di dalamnya kemungkinan meningkatnya level permukaan laut. Bagi pemuda Indonesia, terutama mereka yang mendalami bidang ilmu lingkungan atau geografi, hal ini memberikan wawasan berharga mengenai pentingnya penelitian terkait perubahan iklim. Dalam konteks Indonesia, yang memiliki banyak pulau dan pantai yang rentan, informasi ini dapat meningkatkan kesadaran akan dampak cuaca ekstrem dan perubahan iklim, yang dapat mempengaruhi ekonomi dan kebijakan perlindungan lingkungan.Secara keseluruhan, penelitian ini mendorong perlunya perhatian lebih terhadap kondisi iklim dan bagaimana fenomena seperti curah hujan dapat berdampak pada dinamika gletser. Dengan meningkatnya kesadaran akan masalah ini, terutama bagi generasi muda, diharapkan akan muncul langkah-langkah konkret untuk menjaga lingkungan dan memitigasi dampak negatif dari perubahan iklim yang berpotensi mengganggu kehidupan dan ekosistem yang ada.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 8 Nov 2026, 21.07 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)