TLDR
Glacier Thwaites mungkin terus kehilangan es untuk generasi mendatang meskipun pemanasan laut berkurang. Model baru menunjukkan bahwa kontribusi Thwaites terhadap peningkatan permukaan laut dapat dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya. Mengurangi emisi gas rumah kaca tetap penting untuk membatasi kerugian es lebih lanjut dan mempersiapkan peningkatan permukaan laut. Pomodo.id - Gletser Thwaites di Antartika diperkirakan akan terus mencair meskipun suhu laut menurun. Penelitian baru menunjukkan bahwa kontribusinya terhadap kenaikan permukaan laut hingga tahun 2100 bisa mencapai 30 milimeter, dua kali lipat dari yang diperkirakan sebelumnya. Temuan ini menyoroti tantangan besar bahwa perubahan yang sudah terjadi mungkin sulit untuk dibalik, sementara model terbaru menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman mengenai bagaimana air laut hangat mencapai bagian bawah gletser dapat memperburuk situasi.Gletser Thwaites, yang juga dikenal sebagai "Doomsday Glacier," merupakan salah satu penyumbang terbesar kehilangan es di Antartika. Jika gletser ini sepenuhnya runtuh, dapat menyebabkan kenaikan permukaan laut global sebesar sekitar 65 sentimeter. Setiap sentimeter dari kenaikan ini berpotensi mengekspos enam juta orang di seluruh dunia terhadap risiko banjir pesisir. Gletser ini berada di West Antarctica dan sebagian besar esnya beristirahat di atas batuan yang berada di bawah permukaan laut. Matahari yang lebih hangat dapat melarutkan es yang mengapung, memudahkan es di belakangnya untuk bergerak lebih cepat ke laut.Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari University of California, Irvine, dan NASA’s Jet Propulsion Laboratory memanfaatkan model es yang lebih baik untuk memahami perubahan pada gletser ini. Dengan memperluas zona pertemuan antara es yang terdampar dan yang mengapung, hasil model menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi jauh lebih besar dibandingkan dengan model-model konvensional. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memahami dinamika es untuk bisa memproyeksikan perubahannya di masa depan.
Gletser Thwaites adalah gletser besar di Antartika yang dikenal karena potensi dampaknya terhadap kenaikan permukaan laut. Dengan ukuran yang setara dengan negara Florida, gletser ini menyimpan cukup es untuk meningkatkan permukaan laut global hingga 65 sentimeter jika terjadi keruntuhan total. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena setiap kenaikan sentimeter akan berimbas langsung pada jutaan orang yang tinggal di daerah pesisir di seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang rentan terhadap banjir.
Kontradiksi dalam hal ini adalah bahwa meskipun suhu laut mungkin turun, efek dari perubahan yang telah terjadi dan model-model yang baru menunjukkan bahwa gletser tetap akan mencair secara agresif. Ini memiliki implikasi besar, terutama untuk pemuda Indonesia. Indonesia, yang memiliki banyak wilayah pesisir dan populasi yang padat, perlu bersiap menghadapi ancaman dari kenaikan permukaan laut ini. Hal ini memperjelas pentingnya pendidikan dan keterampilan terkait perubahan iklim serta manajemen risiko bencana untuk menghadapi tantangan yang akan datang.Bagi generasi muda, tantangan ini bisa menjadi peluang untuk mengembangkan keterampilan di bidang teknologi hijau, kebijakan lingkungan, dan rekayasa pertahanan pesisir. Dengan kenaikan permukaan laut yang sudah menjadi kenyataan, kebutuhan akan profesional yang mampu mengatasi masalah ini akan meningkat. Mengingat bahwa gletser Thwaites menjadi semakin tidak stabil, upaya untuk memahami dan beradaptasi terhadap perubahan iklim akan menjadi semakin penting bagi karier mereka di masa depan.Dengan pemahaman yang lebih baik tentang Gletser Thwaites dan potensi dampaknya, Indonesia dan pemudanya dapat lebih siap menghadapi krisis iklim yang akan datang dan mengembangkan strategi mitigasi yang efektif untuk melindungi masyarakat dan lingkungan.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 17 Okt 2026, 23.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)