TLDR
Glacier Thwaites mencair lebih agresif daripada yang diperkirakan, berpotensi menambah hingga 30 mm pada kenaikan permukaan laut hingga tahun 2100. Zona grounding yang lebih luas menyoroti pentingnya pemodelan yang akurat untuk memahami dinamika glasier dan dampaknya terhadap perubahan iklim. Meskipun pengurangan emisi gas rumah kaca dilakukan, permukaan laut masih akan terus meningkat akibat kerusakan yang sudah terjadi. Pomodo.id - Gletser Thwaites di Antartika semakin mencair dengan kecepatan yang lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, dan ini bisa berakibat drastis terhadap kenaikan permukaan laut global. Gletser yang dikenal juga sebagai "Doomsday Glacier" ini, yang memiliki luas setara dengan negara bagian Florida, menyumbang sekitar empat persen dari total kenaikan permukaan laut tahunan global. Jika gletser ini runtuh sepenuhnya, dapat memicu peningkatan permukaan laut sebesar sekitar 65 sentimeter, yang akan membuat sekitar enam juta orang di seluruh dunia terpapar risiko banjir pesisir.Penelitian terbaru dari Universitas California, Irvine, dan Laboratorium Propulsi Jet NASA menunjukkan bahwa Thwaites dapat berkontribusi hingga 30 milimeter pada kenaikan permukaan laut pada tahun 2100, bahkan tanpa adanya pemanasan iklim tambahan. Untuk mencapai kesimpulan ini, para peneliti mengembangkan model lapisan es yang baru, memperhitungkan zona "grounding" yang lebih luas, berbeda dari garis "grounding" tradisional yang sempit. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi pada gletser Thwaites empat kali lebih besar dari yang ditangkap oleh model konvensional.
Gletser Thwaites adalah salah satu gletser terbesar di Antartika dan memainkan peran penting dalam stabilitas lapisan es. Aula yang menahannya mulai mencair dapat mempercepat proses pencairan lapisan es lainnya. Dalam konteks perubahan iklim, banyak yang mengira bahwa pencairan gletser tidak berpengaruh langsung pada mereka; padahal, efeknya dapat mengguncang ekosistem global dan meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem. Pengetahuan tentang gletser ini penting, karena dampaknya mencakup seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Kenaikan permukaan laut yang lebih cepat ini juga membawa dampak yang signifikan bagi Indonesia, yang merupakan negara kepulauan dengan banyak daerah pesisir. Dengan lebih dari 18.000 pulau, Indonesia rentan terhadap banjir akibat kenaikan permukaan laut. Misalnya, jika permukaan laut naik sebesar 65 sentimeter, daerah padat penduduk di Jakarta, Surabaya, dan kota pesisir lainnya dapat mengalami kerugian besar, baik dari segi ekonomi maupun sosial.Pertanyaannya adalah, apa yang bisa dibawa perubahan ini untuk generasi muda di Indonesia? Dengan meningkatnya ancaman banjir, kebutuhan untuk pekerjaan di bidang mitigasi risiko bencana, teknik sipil, dan teknologi ramah lingkungan akan terus meningkat. Keterampilan dalam manajemen lingkungan dan adaptasi iklim akan menjadi semakin dicari. Masyarakat yang terampil dalam menggunakan teknologi untuk memantau dan merespons perubahan iklim, seperti sistem pemantauan cuaca dan pengelolaan sumber daya air, akan memiliki keunggulan kompetitif.Dengan demikian, pemahaman yang mendalam tentang dampak pencairan gletser seperti Thwaites tidak hanya mengedukasi kita tentang perubahan iklim global, tetapi juga memberikan gambaran tentang kebutuhan mendatang di berbagai sektor tersebut. Generasi muda Indonesia perlu menyadari pertumbuhan karir dalam industri berkelanjutan dan teknologi hijau, yang akan membantu negara beradaptasi terhadap tantangan-tantangan yang akan datang.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 16 Okt 2026, 03.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)