TLDR
Ketahanan bisnis tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui perbaikan berkelanjutan. Organisasi perlu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi secara konstan untuk tetap relevan. Proses yang lebih efisien dan sistem yang lebih kuat membantu bisnis untuk lebih siap menghadapi gangguan mendatang. Pomodo.id - Membangun bisnis yang tangguh sangat bergantung pada kemampuan untuk melakukan perbaikan berkelanjutan. Dalam dunia yang cepat berubah, seperti yang kita lihat pada Maret 2020 ketika terjadi shutdown global, hanya bisnis yang mampu beradaptasi dengan cepat yang dapat bertahan. Perbaikan berkelanjutan bukan hanya sekedar jargon; itu adalah kunci untuk menciptakan organisasi yang lebih efisien, lebih responsif terhadap perubahan pasar dan mampu menjaga operasionalnya dalam kondisi sulit.Menurut Mike Biwer, CEO Cavallo, organisasi yang sukses dalam perbaikan berkelanjutan mengadopsi proses yang lebih efisien, memperbarui sistem mereka, dan menerapkan praktik pemantauan (benchmarking) untuk mengetahui area mana yang perlu ditingkatkan. Ketika keadaan berubah secara mendadak, bisnis yang telah membudayakan adaptasi akan merespons dengan lebih baik. Pada kenyataannya, banyak bisnis mengalami gelombang perubahan yang tidak se ekstrem pandemi, seperti perkembangan teknologi baru, ekspektasi pelanggan yang berubah, atau munculnya pesaing yang sebelumnya tidak ada. Dengan perbaikan berkelanjutan, organisasi dapat lebih mudah menanggapi perubahan tersebut.Penting untuk dicatat bahwa pengembangan ketahanan tidak terjadi secara instan selama krisis. Ketahanan dibangun dari fondasi yang kuat berupa praktik manajerial yang saling mendukung. Dalam hal ini, perbaikan berkelanjutan memberikan wawasan yang diperlukan untuk mempersiapkan diri menghadapi krisis di masa depan. Bisnis yang berorientasi pada peningkatan terus-menerus mampu melihat hambatan sebagai peluang untuk pertumbuhan, bukan sebagai ancaman.
Perbaikan berkelanjutan adalah pendekatan yang melibatkan peninjauan dan peningkatan proses bisnis secara terus-menerus. Ini penting karena membantu organisasi untuk tetap relevan dan efisien. Salah satu kesalahpahaman umum adalah bahwa pendekatan ini hanya berlaku untuk perusahaan besar; padahal, bisnis kecil juga dapat menerapkannya untuk meningkatkan daya saing dan menghadapi tantangan dengan lebih baik.
Menghadapi masa depan yang tidak pasti, memahami pentingnya perbaikan berkelanjutan akan memberikan keuntungan strategis bagi para profesional muda di Indonesia. Misalnya, jika mereka bekerja di sektor teknologi, kemampuan untuk beradaptasi dan terus meningkatkan proses dapat meningkatkan daya jual mereka di pasar kerja yang sangat kompetitif. Secara finansial, bisnis yang tangguh tidak hanya bertahan tetapi juga dapat memanfaatkan peluang baru yang muncul dari krisis. Seiring dengan berkembangnya ekonomi digital di Indonesia, yang diperkirakan akan mencapai lebih dari US$100 miliar pada tahun 2026, memperkuat keterampilan dalam perbaikan berkelanjutan juga berarti membuka lebih banyak peluang kerja di sektor-sektor baru yang berbasis teknologi.Tantangan yang dihadapi bisnis saat ini adalah nyata, tetapi tidak ada solusi instan untuk memperbaiki fundamental; itu memerlukan waktu dan dedikasi. Dengan menumbuhkan budaya perbaikan berkelanjutan dalam organisasi mereka, para pemuda Indonesia dapat berkontribusi tidak hanya pada keberhasilan perusahaan tetapi juga pada ketahanan ekonomi nasional di masa depan. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi pekerja yang adaptif tetapi juga menjadi inovator yang dapat mendorong Indonesia menuju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 4 Nov 2026, 22.07 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)