TLDR
Terapi gen berpotensi menjadi solusi revolusioner untuk pengobatan kolesterol dan penyakit jantung. Meskipun menawarkan harapan, terapi gen masih menghadapi tantangan terkait risiko dan efektivitas jangka panjang. Perkembangan terapi gen dapat menciptakan peluang karir baru bagi pemuda Indonesia di bidang kesehatan dan penelitian. Pomodo.id - Dua kardiolog dari Frankel Cardiovascular Center, University of Michigan Health, Amerika Serikat, Eric D. Smith dan Venkatesh L. Murthy, mengusulkan kerangka berisi lima pertanyaan yang menurut mereka harus dijawab sebelum terapi gen "sekali suntik" dipakai untuk penyakit umum seperti kolesterol tinggi dan penyakit jantung. Gagasan itu mereka tuangkan dalam artikel perspektif "Clinical Framework for Durable Genomic Interventions" di jurnal JAMA Internal Medicine (2026). Ini adalah kerangka klinis berbasis argumen, bukan hasil uji klinis baru.TL;DR: Terapi gen sekali suntik untuk kolesterol sudah menunjukkan hasil awal yang menjanjikan, tetapi karena efeknya sulit dibatalkan dan calon penerimanya bisa jutaan orang, para kardiolog Michigan menilai standar keamanan, pemantauan jangka panjang, dan keterjangkauan harga harus jauh lebih ketat dibanding terapi untuk penyakit langka.Terapi gen sudah dipakai untuk sejumlah penyakit langka, misalnya atrofi otot tulang belakang (SMA) dan anemia sel sabit. Dari lebih dari 6.000 penyakit genetik langka yang telah diidentifikasi, baru sebagian kecil yang punya target yang bisa diobati. Kini riset mulai bergeser ke penyakit yang jauh lebih umum, seperti kolesterol tinggi, penyakit jantung, obesitas, dan diabetes, dengan janji satu kali perawatan yang bisa menggantikan obat harian seumur hidup.Menurut Smith dan Murthy, "sekali suntik" tidak otomatis berarti efeknya bertahan seumur hidup. Banyak terapi gen memakai virus yang dimodifikasi untuk membawa instruksi genetik ke dalam sel. Sistem imun bisa mengenali kendaraan ini dan membentuk respons, sehingga pemberian ulang bisa sulit atau bahkan mustahil jika manfaatnya memudar. Terapi yang ada saat ini menyasar sel somatik (sel tubuh di luar sel reproduksi), sehingga perubahannya tidak dimaksudkan untuk diwariskan ke keturunan.Masalah utamanya adalah fleksibilitas. Penyakit seperti kolesterol tinggi sudah punya obat yang dosisnya bisa disesuaikan atau dihentikan bila timbul efek samping. Perubahan genetik permanen umumnya tidak memberi pilihan itu. Murthy juga menyoroti skala: efek samping yang sangat jarang tetap bisa merugikan banyak orang bila terapi diberikan kepada jutaan pasien, sehingga menurutnya standar keamanan harus naik.Lima pertanyaan yang diusulkan kedua kardiolog itu adalah: seberapa parah penyakitnya dan seberapa besar manfaat bagi pasien; apakah sudah ada terapi efektif yang bisa diatur atau dihentikan; apakah jaringan yang disasar cocok untuk intervensi tahan lama dengan satu dosis; apakah risiko metode pengantaran gen sepadan dengan keparahan penyakit; dan apakah keamanan serta efektivitasnya bisa dipantau selama bertahun-tahun, terutama bila penerimanya sangat banyak.Pertanyaan terakhir dinilai paling sulit. Uji klinis biasanya melibatkan kelompok pasien yang relatif kecil dengan masa pemantauan terbatas, sehingga komplikasi yang sangat jarang atau baru muncul bertahun-tahun kemudian bisa terlewat. Smith menekankan bahwa pemantauan jangka panjang tidak boleh menjadi renungan belakangan; diperlukan registri pasien yang independen, terstandar, dan berskala besar. Para penulis menyebut "saklar mati" (off-switch) biologis untuk membalikkan efek terapi sebagai kemungkinan di masa depan, tetapi selama cara itu belum terbukti andal, kemampuan menghentikan atau mengubah pengobatan tetap menjadi keunggulan keamanan obat konvensional.Harga juga menjadi hambatan. Sebagian terapi gen yang sudah beredar memiliki harga daftar di atas 1 juta dolar AS (sekitar Rp16 miliar) per pasien, dan beberapa jauh lebih mahal. Harga seperti itu mungkin bisa diterima untuk penyakit langka yang mengancam jiwa, tetapi akan sangat membebani sistem kesehatan bila diterapkan pada penyakit yang diderita jutaan orang, dan berisiko memperlebar kesenjangan akses.Kekhawatiran ini bukan lagi teoretis. Terapi penyuntingan basa (base editing) VERVE-102 dari Verve Therapeutics, anak usaha Eli Lilly, yang menonaktifkan gen PCSK9 di hati, telah diuji pada manusia. Hasil interim uji fase 1b Heart-2, yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine dan dipresentasikan di kongres European Atherosclerosis Society di Athena pada Mei 2026, mencakup 35 pasien dengan hiperkolesterolemia familial heterozigot dan/atau penyakit jantung koroner dini. Pada dosis tertinggi, satu kali infus menurunkan protein PCSK9 hingga 88% dan kolesterol LDL hingga 62%, setara dengan obat penghambat PCSK9. Data satu tahun baru tersedia untuk 15 peserta dan efeknya sejauh ini bertahan. Tidak ditemukan toksisitas pembatas dosis; efek samping berupa reaksi infus ringan hingga sedang dan kenaikan enzim hati sementara. Uji fase 2 direncanakan mulai akhir 2026 dengan pemantauan peserta hingga 15 tahun, sementara risiko penyuntingan di luar target masih menjadi pertanyaan terbuka.Bagi Indonesia, isu ini relevan. Kementerian Kesehatan pada 2022, merujuk data Global Burden of Disease, menyebut penyakit jantung sebagai penyebab kematian utama di Indonesia, dan pada 2021 penyakit jantung menjadi pos biaya terbesar BPJS Kesehatan dengan nilai Rp7,7 triliun. Jika kelak terapi gen untuk kolesterol disetujui, soal keamanan jangka panjang dan harga yang disorot Smith dan Murthy akan menjadi pertanyaan nyata bagi sistem jaminan kesehatan nasional. Hingga kini belum ada terapi penyuntingan gen untuk kolesterol yang disetujui di negara mana pun.Smith dan Murthy menegaskan tujuan mereka bukan menghambat kedokteran genetik, melainkan memastikan teknologi yang berpotensi mengubah layanan kesehatan ini diperkenalkan secara hati-hati dan bertanggung jawab.
Terapi gen vs penyuntingan gen
Terapi gen adalah istilah luas untuk pengobatan yang bekerja pada materi genetik: menambahkan salinan gen yang berfungsi, membungkam aktivitas gen yang merugikan, atau mengubah DNA secara langsung. Penyuntingan gen, termasuk penyuntingan basa, adalah salah satu caranya, yaitu mengubah urutan DNA tertentu secara permanen di dalam sel. Berbeda dengan obat biasa yang harus terus diminum, sebagian terapi ini dirancang bekerja setelah satu kali pemberian, tetapi efeknya juga lebih sulit dihentikan.
---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 4 Nov 2026, 16.46 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)