TLDR
Gelombang ultrasonik terfokus menunjukkan potensi dalam pengobatan glioblastoma dengan meningkatkan penyerapan microRNA. Penelitian ini masih memerlukan uji coba lanjutan untuk memastikan efektivitas dan keamanan dalam aplikasi klinis. Generasi muda di Indonesia harus mengikuti perkembangan teknologi kesehatan untuk mempersiapkan diri menghadapi peluang baru di bidang kedokteran dan bioteknologi. TL;DR: Peneliti University of Virginia (UVA), Amerika Serikat, memakai gelombang ultrasonik terfokus untuk membuka sementara "pagar pelindung" otak sehingga nanopartikel pembawa tiga microRNA bisa mencapai glioblastoma, kanker otak paling ganas pada orang dewasa. Pada tikus, terapi ini memperlambat pertumbuhan tumor dan memperpanjang kelangsungan hidup. Hasilnya terbit di Journal of Clinical Investigation, tetapi belum diuji pada manusia.Pomodo.id - Glioblastoma dikenal sebagai salah satu kanker yang paling sulit diobati. Sel tumornya menyusup ke jaringan otak yang sehat sehingga hampir mustahil diangkat seluruhnya lewat operasi, dan sebagian besar obat tertahan oleh sawar darah-otak sebelum sampai ke sasaran. Tim yang dipimpin Prof. Roger Abounader dari UVA School of Medicine dan UVA Comprehensive Cancer Center kini melaporkan cara untuk menembus kedua hambatan itu sekaligus, setidaknya pada hewan percobaan.Studi dengan penulis pertama Shekhar Saha ini terbit secara akses terbuka di Journal of Clinical Investigation (2026, volume 136 nomor 16, DOI 10.1172/JCI195639). UVA Health pertama kali mengumumkannya pada 22 Juli 2026, dan ScienceDaily memuat ulang rilis tersebut pada 1 November 2026.Alih-alih memakai satu obat untuk satu target, tim memilih microRNA yang masing-masing mengendalikan banyak gen pendorong tumor sekaligus. Kandidatnya disaring dengan teknik PAR-CLIP, analisis data genom tumor dari The Cancer Genome Atlas (TCGA), dan sebuah algoritma yang memeringkat pentingnya setiap target. Hasilnya tiga microRNA: miR-340 dan miR-382, yang bersifat menekan tumor, serta miR-17, microRNA pendorong kanker yang justru perlu dihambat.
microRNA adalah potongan RNA sangat pendek yang tidak membuat protein, tetapi mengatur gen lain dengan menempel pada RNA pembawa pesan dan meredam produksinya. Satu microRNA bisa mengatur puluhan hingga ratusan gen. Karena glioblastoma digerakkan oleh banyak gen yang rusak sekaligus, para peneliti berharap satu microRNA bisa "menembak" beberapa jalur kanker dalam sekali serang.
Masalah berikutnya adalah pengiriman. Menurut Neuroscience News, sawar darah-otak menghalangi lebih dari 98% obat bermolekul kecil. Tim UVA mengemas microRNA dalam nanopartikel penembus otak, lalu memakai ultrasonik terfokus yang dipandu MRI bersama gelembung mikro (microbubbles) yang disuntikkan ke aliran darah. Gelombang suara membuat gelembung bergetar dan membuka sawar darah-otak untuk sementara di titik yang dituju, sehingga nanopartikel bisa masuk ke jaringan tumor.Dalam uji laboratorium dan model tikus glioblastoma, terapi microRNA ini memperlambat pertumbuhan tumor dan membuat hewan bertahan hidup lebih lama. Rilis UVA dan liputan pendukungnya tidak mencantumkan angka perpanjangan hidup secara spesifik."Pendekatan baru ini dapat membantu menyasar banyak molekul yang mendorong pertumbuhan kanker," kata Abounader dalam rilis UVA. Ia menambahkan bahwa timnya berharap membawa temuan ini ke uji klinis, dan pendekatan yang sama berpotensi dipakai untuk beberapa penyakit otak serta penyakit lain.Meski begitu, hasil ini masih tahap praklinis. Banyak terapi yang berhasil pada tikus gagal saat diuji pada manusia, dan para peneliti sendiri menyatakan masih dibutuhkan riset lanjutan sebelum pendekatan ini bisa dievaluasi pada pasien. Belum ada jadwal uji klinis yang diumumkan.Kebutuhan akan terapi baru memang mendesak. Di Amerika Serikat, glioblastoma merenggut lebih dari 13.000 nyawa per tahun. Dengan terapi standar berupa operasi, radiasi, dan kemoterapi, harapan hidup rata-rata pasien hanya sekitar 15 bulan, seperti dikutip dalam abstrak studi.Di Indonesia, data epidemiologi tumor otak masih sangat terbatas. Salah satu data yang tersedia berasal dari sebuah rumah sakit umum di Medan, yang mencatat 131 kasus tumor otak sepanjang 2018-2019; 34 di antaranya (26%) adalah glioma, kelompok tumor yang mencakup glioblastoma.Penelitian ini didanai antara lain oleh National Cancer Institute dan National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NIH), Focused Ultrasound Foundation, Ben and Catherine Ivy Foundation, serta Schiff Foundation. Para peneliti menyatakan tidak memiliki kepentingan finansial atas temuan ini.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 3 Nov 2026, 08.45 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)