TLDR
Penurunan aktivitas gelombang beta dapat berhubungan dengan gejala skizofrenia, menunjukkan pentingnya fungsi kognitif dan emosional yang sehat. Keterbatasan dalam penelitian ini menunjukkan perlunya lebih banyak studi untuk memahami pengaruh faktor lain terhadap gelombang otak dan kesehatan mental. Ada potensi besar bagi generasi muda di Indonesia untuk berkontribusi dalam penelitian kesehatan mental dan neurologi, mengingat meningkatnya kesadaran terhadap isu kesehatan mental. Pomodo.id - Tim peneliti McGill University, Kanada, menemukan bahwa satu sinyal otak, yakni aktivitas gelombang beta, tampaknya berkaitan dengan beberapa gejala skizofrenia yang selama ini biasanya diteliti secara terpisah. Studi yang dimuat di jurnal Science Advances ini melibatkan 50 peserta: 25 orang dengan diagnosis skizofrenia dan 25 orang sehat sebagai pembanding. Penelitian dikerjakan bersama McConnell Brain Imaging Centre, Universitas Montreal, Pusat Riset Rumah Sakit Universitas Montreal, dan Douglas Research Centre.Gelombang beta adalah pola listrik berirama di otak yang berperan dalam pengolahan informasi, persepsi, dan gerakan. Untuk mengukurnya, peneliti memakai magnetoensefalografi (MEG) resolusi tinggi, alat yang menangkap medan magnet sangat kecil dari aktivitas listrik otak, di Montreal Neurological Institute-Hospital (The Neuro). Selama pemindaian, peserta diminta menilai ketepatan waktu rangsangan visual dan suara, sementara ucapan mereka dianalisis untuk mencari tanda pikiran dan komunikasi yang tidak teratur.Hasilnya, gelombang beta pada penderita skizofrenia lebih lemah dan lebih lambat dibanding kelompok sehat. Peserta dengan kelainan sinyal terbesar juga paling kesulitan menilai waktu penglihatan dan suara, ucapannya paling tidak teratur, dan gejala klinisnya paling berat. Penulis utama Hsi (Tiana) Wei, peneliti pascadoktoral di Departemen Psikiatri McGill dan Douglas Research Centre, menyebut sinyal melemah yang sama muncul pada tugas suara, penglihatan, dan gerakan, sehingga mengarah pada satu proses dasar bersama.Penulis senior Dr. Lena Palaniyappan, profesor psikiatri McGill dan direktur Centre of Excellence in Youth Mental Health di Douglas Hospital, menilai temuan ini sebagai bukti awal namun meyakinkan. Ia mengingatkan bahwa tanda pertama skizofrenia muncul sejak remaja tetapi sering terlewat lama. Karena itu, sinyal ini berpotensi membantu mengenali anak muda yang berisiko mengalami psikosis, dan layak diteliti sebagai calon target pengobatan.Para peneliti menegaskan hasilnya masih pendahuluan. Wei menyebutnya studi pertama berukuran sederhana, dan kaitan sinyal ini dengan gangguan bicara serta keparahan gejala perlu diuji pada sampel yang lebih besar dan independen. Temuan ini belum menjadi alat diagnosis maupun terapi.Isu deteksi dini relevan bagi Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan mencatat Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai provinsi dengan proporsi rumah tangga tertinggi yang memiliki anggota bergejala psikosis atau skizofrenia, disusul Jawa Tengah dan Sulawesi Barat.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 30 Okt 2026, 21.29 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)