TLDR
Tim KAIST mengembangkan katalis baru yang lebih efisien untuk produksi hidrogen hijau dengan mengurangi penggunaan logam berharga hingga 75 persen. Desain 'tetangga lapisan atom' meningkatkan interaksi atom dan lingkungan kimia, memungkinkan reaksi lebih cepat dan efisien. Katalis baru menunjukkan durabilitas yang lebih baik, memotong kehilangan kinerja selama pengujian berkelanjutan selama 500 jam. Pomodo.id - Inovasi terbaru di bidang produksi hidrogen hijau telah diciptakan oleh peneliti asal Korea Selatan yang mengembangkan katalis berbasis ruthenium yang lebih ekonomis dan efisien. Dipimpin oleh Profesor Jinwoo Lee di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), tim tersebut memperkenalkan desain katalis yang baru, mengelompokkan atom ruthenium dalam lapisan setebal satu atom yang tertambat pada dukungan tungsten karbida. Hal yang menarik, kinerja katalis ini dapat menyamai output hidrogen dari katalis platinum komersial, namun secara dramatis mengurangi penggunaan logam berharga hingga 75 persen. Dalam uji coba berkelanjutan selama 500 jam, katalis ini menunjukkan daya tahan yang sangat baik dengan penurunan kinerja yang setengah lebih rendah dibandingkan dengan yang lain.Namun, penggunaan katalis berbahan logam berharga masih menjadi tantangan signifikan dalam proses elektrolisis air, yang memisahkan air menjadi hidrogen dan oksigen menggunakan listrik terbarukan. Katalis konvensional biasanya terbuat dari logam mahal seperti platinum dan ruthenium. Sebagai jalan keluarnya, tim peneliti merancang atom ruthenium dalam kelompok kecil yang lebih efisien, daripada membentuk kluster besar yang boros. Desain ini mengatasi masalah klasik di mana sebagian besar logam berharga terpendam dan terisolasi dari air yang harus dipisahkan, menjadikannya desain yang lebih efisien.
Katalis ruthenium adalah senyawa yang menggunakan atom ruthenium sebagai komponen utama untuk mempercepat reaksi kimia, khususnya dalam proses produksi hidrogen hijau. Ketika digunakan dalam elektrolisis air, katalis ini membantu memisahkan air menjadi hidrogen dan oksigen dengan emisi karbon yang sangat rendah. Hal ini penting karena mengurangi ketergantungan pada logam berharga yang mahal dan meminimalkan dampak lingkungan dari produksi hidrogen.
Inovasi ini memiliki dampak penting bagi generasi muda di Indonesia. Dilihat dari perspektif karier, perkembangan seperti ini menciptakan peluang baru dalam sektor teknologi energi terbarukan. Dengan meningkatnya kebutuhan akan solusi energi yang ramah lingkungan, lulusan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam teknik kimia dan bahan berkelanjutan akan semakin dicari. Mempelajari teknik-teknik baru ini dapat membuka peluang kerja di industri yang sedang berkembang, serta meningkatkan kemampuan untuk bersaing di pasar kerja global.Katalis yang lebih murah dan efisien ini berpotensi merubah biaya produksi hidrogen hijau yang saat ini masih tergolong mahal. Ini dapat menciptakan aksesibilitas lebih besar terhadap energi bersih, menekan biaya untuk konsumen, dan menghadirkan pilihan energi yang lebih terjangkau di masa depan. Di Indonesia, di mana tantangan penggunaan energi terbarukan terus berkembang, inovasi ini menunjukkan bahwa ada cara untuk menghasilkan energi bersih dengan lebih hemat biaya. Hal ini juga sejalan dengan kebutuhan global untuk beralih dari sumber energi fosil yang lebih merusak lingkungan.Dengan kemajuan ini, Indonesia dapat memanfaatkan teknologi canggih ini untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas, serta mengejar target-target keberlanjutan yang semakin ambisius. Seiring dengan meluasnya penerapan teknologi hijau, dampak positif terhadap lingkungan serta perekonomian lokal dapat terwujud melalui penciptaan lapangan kerja baru dan inovasi yang berkelanjutan.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 29 Okt 2026, 20.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)