TLDR
Katalis baru mengurangi penggunaan logam mulia sambil meningkatkan kinerja dalam produksi hidrogen hijau. Proses sintesis aliran kontinu memungkinkan produksi aloi yang stabil dan efisien. Hasil penelitian menunjukkan potensi aplikasi di bidang konversi energi elektrokimia lainnya selain produksi hidrogen. Pomodo.id - Produksi hidrogen hijau kini dapat lebih terjangkau dan efisien berkat pengembangan katalis baru oleh para peneliti di Braga, Portugal. Katalis ini menggunakan campuran logam platinum, nikel, dan ruthenium yang merupakan logam mulia dengan berat lebih ringan dibandingkan katalis komersial yang ada, yang mengandung lebih banyak logam mulia. Dengan teknologi ini, para ilmuwan bertujuan untuk mengurangi biaya dan mengoptimalkan produksi hidrogen yang dihasilkan dari elektrolisis air menggunakan membran proton exchange atau PEMWE.Melalui penelitian di Laboratorium Nanoteknologi Iberia Internasional (INL), para peneliti berhasil menciptakan nanopartikel dengan ukuran yang sangat kecil, hanya 1,5 nanometer, yang terpasang pada graphene dengan cacat. Katalis baru ini memiliki kandungan logam mulia sebanyak 20,5 persen beratnya, jauh lebih rendah dibandingkan katalis komersial yang mencapai 40 persen platinum. Meskipun menggunakan lebih sedikit logam mulia, katalis ini dapat beroperasi dengan stabil selama lebih dari 300 jam pada suhu sekitar 60 °C dan menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan dengan standar yang ada.Namun, perlu diingat bahwa penggunaan logam mulia tetap menjadi tantangan dalam produksi hidrogen. Meskipun katalis baru menunjukkan hasil yang menjanjikan, ketergantungan pada logam ini bisa menjadi keterbatasan dalam pekerjaannya di masa depan. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menjamin kestabilan dan kualitas katalis ini dalam waktu yang lebih lama dan dalam berbagai kondisi.Perkembangan ini memiliki dampak yang signifikan bagi anak muda Indonesia, terutama mereka yang memasuki bidang teknologi, insinyur, dan energi terbarukan. Dengan penurunan biaya produksi hidrogen hijau, hal ini membuka peluang untuk investasi lebih lanjut dalam teknologi berkelanjutan, yang menjadi topik utama dalam upaya Indonesia mencapai tujuan ekonomi rendah karbon. Sebagai contoh, biaya produksi hidrogen yang lebih rendah juga dapat berarti lebih banyak lapangan pekerjaan baru dalam sektor yang berorientasi pada energi terbarukan dan pengembangan infrastruktur yang lebih hijau di Indonesia.
Katalis berfungsi sebagai agen pengubah kecepatan reaksi kimia, mempercepat proses pembangkitan hidrogen dari air. Dengan mengurangi jumlah logam mulia yang diperlukan, katalis baru ini membantu menekan biaya tetap dalam pengadaan bahan. Konsekuensi dari inovasi ini adalah mengurangi biaya produksi hidrogen hijau, yang sejalan dengan tren global untuk beralih ke solusi energi lebih bersih dan berkelanjutan.
Dengan keberhasilan penelitian ini, industri energi terbarukan di Indonesia bisa mendapat dampak positif, menciptakan tidak hanya peluang bisnis baru, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk berinvestasi dalam keterampilan teknologi yang relevan. Ketika biaya produksi hidrogen hijau turun, semakin banyak perusahaan dapat berpartisipasi dalam pasar energi bersih ini, yang berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi hijau Indonesia di masa depan.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 18 Okt 2026, 00.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)