TLDR
Penelitian ini mengembangkan elektrode nikel-kobalt yang murah dan efisien untuk produksi hidrogen hijau. Elektrode baru ini menunjukkan kinerja setara dengan sistem platinum, tetapi pada biaya yang jauh lebih rendah. Tim peneliti berencana untuk memproduksi elektrode dalam skala besar untuk integrasi ke dalam pabrik industri megawatt. Pomodo.id - Elektroda yang baru saja diciptakan di Korea Selatan menawarkan harapan baru untuk produksi hidrogen hijau yang lebih efisien dan terjangkau. Peneliti dari Korea Institute of Energy Research (KIER) telah mengembangkan elektroda berbasis nikel-kobalt yang bebas dari logam mulia seperti platinum. Dengan menggunakan komposisi ini, proses elektrolisis air alkalin menjadi lebih efisien, mengurangi waktu reaksi yang sebelumnya lambat, sekaligus menurunkan biaya produksi hidrogen yang bersih secara signifikan.Dalam proses elektrolisis, arus listrik diterapkan pada air untuk membagi molekulnya menjadi gas hidrogen dan oksigen tanpa emisi karbon. Sayangnya, sistem yang lebih besar dan kompleks dalam lingkungan alkalin biasanya memerlukan logam mulia yang mahal, seperti platinum, yang harganya sekitar $58 per gram. Sementara itu, nikel dan kobalt, yang digunakan di elektroda baru ini, masing-masing hanya dihargai sekitar $0.02 dan $0.05 per gram. Dengan penemuan ini, KIER menunjukkan bahwa elektroda non-logam mulia bisa mencapai kinerja dan daya tahan yang setara dengan yang berbasis logam mulia dalam proses elektrolisis air alkalin.Namun, tantangan tetap ada. Elektroda baru ini masih harus membuktikan keandalannya dalam pengoperasian jangka panjang dalam skala industri yang lebih luas. Meskipun kinerjanya di laboratorium terlihat menjanjikan, transisi dari penelitian ke aplikasi industri memerlukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan efisiensi dan keterjangkauan dalam konteks produksi energi yang lebih besar.Kemajuan ini mengubah landscape masa depan energi di Indonesia dan di seluruh dunia, terutama bagi generasi muda yang sedang mempersiapkan karir di bidang energi terbarukan. Ketersediaan hidrogen hijau yang lebih murah dapat mendorong adopsi teknologi ramah lingkungan di industri dan transportasi, menuntut keterampilan baru dan inovasi. Dengan adanya alternatif yang lebih terjangkau untuk memproduksi hidrogen, peluang kerja di sektor energi terbarukan akan meningkat, sejalan dengan transisi global menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Elektroda nikel-kobalt adalah komponen yang digunakan dalam proses elektrolisis untuk memisahkan air menjadi hidrogen dan oksigen. Dibanding menggunakan logam mulia mahal seperti platinum, elektroda ini menawarkan cara yang lebih murah dan efektif, memungkinkan produksi hidrogen hijau dalam jumlah yang lebih besar dan dengan biaya yang lebih rendah. Ini penting karena akan membantu mengurangi jejak karbon dan biaya energi, yang memiliki dampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk di Indonesia, di mana kebutuhan akan energi bersih semakin mendesak.
Menariknya, pengembangan ini dapat berdampak positif pada perekonomian Indonesia. Dengan biaya produksi yang lebih rendah, hidrogen hijau dapat digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari energi hingga bahan bakar kendaraan bermotor, yang selanjutnya akan menciptakan lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan ketahanan energi nasional. Selain itu, langkah ke arah hidrogen hijau sejalan dengan visi Indonesia untuk memenuhi target emisi karbon dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan, memberi peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam inovasi yang berkelanjutan.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 21 Okt 2026, 00.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)