TLDR
Tim di UNIST berhasil menciptakan perangkat yang dapat memisahkan air menjadi hidrogen dengan efisiensi tinggi tanpa sumber listrik eksternal. Perangkat baru ini menggunakan lapisan hibrida untuk meningkatkan stabilitas dan efisiensi dibandingkan desain sebelumnya. Penggunaan logam berharga seperti platinum telah diminimalkan, mengurangi biaya produksi hidrogen hijau. Pomodo.id - Inovasi teknologi di Korea Selatan telah berhasil menciptakan perangkat bertenaga surya yang bisa memproduksi hidrogen hijau hanya dengan menggunakan cahaya dan air. Tim peneliti dari Ulsan National Institute of Science and Technology (UNIST) merancang alat yang dapat memisahkan molekul air tanpa memerlukan pasokan listrik tambahan. Kemajuan ini menciptakan rekor efisiensi baru untuk perangkat pemisah air berbasis organik, dengan efisiensi konversi solar ke hidrogen mencapai 7.9%, yang merupakan angka tertinggi yang pernah dicatat untuk fotokatalis semikonduktor organik tanpa penggunaan arus listrik eksternal.Tradisionalnya, produksi hidrogen bergantung pada gas alam yang mengeluarkan karbon dioksida dalam prosesnya. Dalam konteks ini, perangkat bertenaga surya memberikan alternatif energi bebas emisi yang lebih ramah lingkungan. Sebelumnya, tantangan bagi teknologi ini adalah kebutuhan akan voltase yang cukup untuk memisahkan air, serta ketidakstabilan antarmuka pada fotokatalis semikonduktor organik. Namun, dengan pengembangan perangkat bertanda "tandem" yang menggabungkan dua lapisan penyerap cahaya, ini berhasil mengatasi batasan tersebut.
Fotokatalisis adalah proses di mana cahaya digunakan untuk mempercepat reaksi kimia, dalam hal ini, memisahkan air menjadi hidrogen dan oksigen. Ini berperan penting dalam produksi hidrogen hijau yang lebih efisien. Proses ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada sumber daya energi konvensional yang lebih berpolusi. Banyak pemahaman yang salah mengenai fotokatalisis adalah bahwa alat ini memerlukan arus dari sumber eksternal untuk berfungsi, padahal penelitian terkini menunjukkan bahwa alat ini dapat beroperasi sepenuhnya hanya dengan energi dari sinar matahari.
Pengembangan ini bisa membawa dampak signifikan bagi generasi muda di Indonesia. Potensi penerapan teknologi hidrogen hijau akan membuka lapangan kerja baru di bidang riset, teknik energi terbarukan, dan pengembangan alat berbasis energi bersih. Mahasiswa atau lulusan baru yang memiliki pengetahuan dalam bidang energi terbarukan dan teknologi lingkungan akan sangat dicari. Dengan semakin meningkatnya perhatian dunia terhadap isu pemanasan global dan pencemaran lingkungan, keterampilan dalam teknologi seperti ini akan semakin relevan di pasar kerja.Selain itu, jika teknologi ini berhasil diterapkan secara luas, kamu sebagai generasi muda bisa menyaksikan perubahan mendasar dalam cara energi diproduksi di Indonesia. Hidrogen hijau berpotensi menjadi bahan bakar masa depan yang bersih, yang mungkin akan menjadi sumber energi alternatif untuk kendaraan atau industri, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dalam konteks Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, pengembangan dan penggunaan teknologi hijau ini tidak hanya akan membawa manfaat ekonomi, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan di masa depan.Dengan inovasi-inovasi semacam ini, Indonesia memiliki peluang untuk mengikuti perkembangan energi terbarukan global, yang bisa menjadikan negara lebih mandiri energi dan memberikan kontribusi terhadap upaya global mengatasi perubahan iklim.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 28 Okt 2026, 23.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)