TLDR
BVR-19 adalah material baru yang dapat memproduksi hidrogen hijau tanpa menggunakan katalis logam mahal. Proses fotokatalisis yang digunakan oleh BVR-19 lebih efisien dalam menghasilkan hidrogen dibandingkan dengan metode tradisional. Penelitian ini memberikan panduan untuk merancang material yang lebih baik untuk produksi bahan bakar solar. Pomodo.id - Oregon State University di Amerika Serikat baru-baru ini menciptakan kelas material baru berbasis sulfur yang dapat menghasilkan hidrogen hijau secara bersih hanya dengan menggunakan sinar matahari. Inovasi ini menghilangkan kebutuhan akan katalis berbasis logam yang mahal, menyuplai jalan bagi produksi hidrogen hijau yang lebih terjangkau di masa depan. Saat dunia beralih dari bahan bakar fosil dengan memanfaatkan energi terbarukan seperti solar dan angin, terbukti ada kekurangan pada beberapa cara. Sementara pembangkit energi terbarukan besar beroperasi di berbagai belahan dunia, energi yang dihasilkan dari angin dan solar tidak dapat digunakan untuk aplikasi daya tinggi. Sebaliknya, hidrogen menawarkan cara yang lebih bersih untuk menjalankan aplikasi daya tinggi, karena pembakarannya menghasilkan air sebagai produk sampingan dan tanpa emisi karbon.Produksi hidrogen konvensional umumnya bergantung pada metana, yang menyebabkan emisi karbon ke atmosfer. Oleh karena itu, para ilmuwan sedang mencari metode yang lebih ramah lingkungan untuk memproduksi hidrogen. Salah satu cara termudah untuk memproduksi hidrogen adalah dengan memisahkan air menggunakan listrik. Proses ini bisa ramah lingkungan atau tidak, tergantung pada bagaimana listrik tersebut dihasilkan. Saat ini, hidrogen yang dihasilkan dengan metode ini harganya sekitar $5 per kilogram, atau sekitar Rp76.000, setara dengan biaya bulanan sewa kos di beberapa daerah di Indonesia. Namun, proses fotokatalisis yang baru lebih efisien dan lebih cepat, karena menggunakan material yang diaktifkan oleh sinar matahari untuk mempercepat reaksi.
Fotokatalisis adalah proses yang menggunakan sinar matahari untuk mengaktifkan material khusus sehingga dapat mempercepat reaksi kimia tanpa memerlukan sumber energi tambahan. Ini penting karena memungkinkan produksi hidrogen yang lebih cepat dan lebih murah dibandingkan metode standar. Sering kali, orang menganggap bahwa semua produksi hidrogen diharuskan menggunakan listrik dari sumber-sumber tidak terbarukan atau dari fasilitas yang mahal, padahal dengan turunnya biaya ini, ada potensi besar untuk realisasi hidrogen hijau yang lebih luas di masa depan.
Namun, tantangan tetap ada. Meski produksi hidrogen hijau dengan biaya rendah ini menjanjikan, infrastruktur untuk memanfaatkan teknologi semacam ini masih harus dikembangkan lebih lanjut. Di Indonesia, dari sisi industri, dorongan untuk beralih ke energi terbarukan dan teknologinya harus ditempuh secara simultan dengan pengembangan kebijakan yang mendukung adopsi energi bersih. Dengan kemajuan dalam penelitian ini, Indonesia dapat mulai mengeksplorasi cara untuk menyediakan sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan sambil mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.Bagi generasi muda Indonesia, pengembangan ini membuka peluang baru. Dengan meningkatnya permintaan akan tenaga kerja di sektor energi terbarukan, ada peluang untuk karir di area yang berfokus pada penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi hijau. Ini juga mengarahkan kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan di bidang teknik dan sains. Untuk saat ini, hasil dari penelitian di Oregon menunjukkan bahwa solusi ramah lingkungan ada di ambang pintu, menandakan era baru dengan potensi untuk memimpin inovasi dalam teknologi energi bersih di seluruh dunia.