TLDR
Penelitian ini berhasil mengatasi masalah interaksi kimia pada sel surya fleksibel perovskite. Strategi dekapsulasi yang diperkenalkan meningkatkan efisiensi dan stabilitas modul surya. Hasil penelitian mendukung pengembangan sistem energi terbarukan dan tujuan pengurangan karbon nasional. Pomodo.id - Sebuah tim riset yang terdiri dari Southeast University dan Soochow University berhasil mengatasi masalah dalam produksi sel surya perovskit fleksibel. Penelitian ini menghadirkan solusi untuk mengubah teknologi sel surya kaku menjadi panel yang fleksibel, yang bisa digulung atau dilipat dan diterapkan pada berbagai permukaan seperti atap mobil atau tas ransel. Dalam proses pembuatan sel surya fleksibel, terdapat tantangan besar yaitu perlunya mencetak dua lapisan sekaligus: lapisan dasar yang sangat tipis (disebut film molekul tunggal atau self-assembled monolayer, SAM) dan kristal perovskit yang mengumpulkan cahaya.Namun, ketika kedua komponen ini dicetak pada substrat fleksibel, terjadi reaksi kimia yang tidak diinginkan, di mana molekul SAM dan komponen perovskit mengikat terlalu kuat satu sama lain. Hal ini menyebabkan terbentuknya lapisan-lapisan yang tidak rata dan penuh cacat, yang akan rusak ketika terkena panas dan kelembapan. Peneliti kemudian memperkenalkan molekul "decoupling" yang disesuaikan, yang berfungsi sebagai wasit atom, mencegah reaksi prematur antara dua komponen. Melalui penelitian ini, perangkat fleksibel berukuran 25 sentimeter persegi menunjukkan kemampuannya untuk mempertahankan 92,5 persen dari efisiensi awalnya yang sebesar 22 persen setelah 1.044 jam pengujian pada suhu tinggi.Meskipun penelitian ini menunjukkan banyak kemajuan, ada beberapa tantangan yang masih dihadapi. Substrat fleksibel sering kali tidak rata dan memiliki kepadatan grup hidroksil yang bervariasi, sehingga metode pencetakan besar yang standar menjadi tidak efektif. Upaya untuk mencetak tanpa memodifikasi teknik sering kali menghasilkan perangkat yang gagal untuk memenuhi harapan performa. Penemuan mengenai molekul penghambat ini membantu memecahkan salah satu masalah terbesar dalam memproduksi sel surya fleksibel secara massal.Implikasi dari perkembangan ini sangat relevan bagi pemuda Indonesia, terutama bagi mereka yang berinvestasi dalam bidang teknologi atau energi baru. Dengan meningkatnya efisiensi dan kemungkinan produksi massal sel surya perovskit fleksibel, peluang kerja di sektor energi terbarukan akan semakin banyak. Indonesia yang kaya akan sinar matahari dapat memanfaatkan teknologi ini untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan. Selain itu, dengan mempertahankan efisiensi tinggi pada suhu dan kelembapan yang ekstrem, investasi dalam teknologi ini bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar dalam jangka panjang.
Molekul penghambat adalah senyawa yang digunakan untuk mencegah reaksi kimia yang tidak diinginkan antara berbagai komponen dalam sistem. Dalam konteks sel surya perovskit, molekul ini membantu menjaga integritas lapisan dasar dan kristal perovskit agar dapat saling berfungsi dengan baik tanpa terjadi kerusakan. Hal ini penting karena lapisan yang rusak dapat mengurangi efisiensi konversi energi dari solar panel. Dengan memperkenalkan molekul penghambat, peneliti dapat meningkatkan daya tahan dan performa dari sel surya fleksibel, menjadikannya lebih cocok untuk aplikasi sehari-hari di Indonesia.
Ke depannya, seiring teknologi ini berkembang dan diadopsi lebih luas di Indonesia, para profesional muda di bidang teknik dan energi akan memiliki peluang untuk berperan aktif dalam revolusi energi bersih. Hal ini tidak hanya akan mengembangkan karir mereka, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan ketahanan energi di tanah air.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 26 Okt 2026, 18.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)