TLDR
Sel surya perovskite terbalik dapat mencapai efisiensi hingga 24,6 persen dengan proses kimia baru. Proses dua langkah menggunakan dua molekul organik berbeda berhasil mengatasi defek struktural dalam bahan solar. Penelitian ini membuka jalan untuk komersialisasi sel surya fleksibel dengan biaya produksi yang lebih rendah. Pomodo.id - Metode baru yang melibatkan dua molekul berbeda telah berhasil meningkatkan efisiensi sel surya perovskite hingga 24,6%. Peningkatan efisiensi ini merupakan tonggak penting dalam teknologi sel surya, yang pada umumnya menggunakan metode pengolahan kimia tunggal. Sebagai perbandingan, sel kontrol yang tidak diolah hanya mencapai efisiensi 21,21% sementara perangkat yang diolah dengan metode tradisional mencapai 23,17%. Metode yang dikembangkan ini menggunakan dua molekul organik dengan ukuran dan bentuk yang berbeda untuk menargetkan cacat struktural pada dua kedalaman yang berbeda dalam material sel surya.Dalam proses ini, molekul kecil yang disebut PDAI digunakan terlebih dahulu untuk mengisi rongga mikroskopis yang terdapat di batas-batas butir kristal. Rongga ini biasanya menjebak pembawa muatan listrik jika dibiarkan terbuka. Dengan mengisi rongga tersebut, PDAI membantu mengamankan jalur yang digunakan oleh muatan listrik untuk bergerak melalui kristal tersebut. Setelah itu, molekul kedua, yaitu 4TF, didepositkan di bagian luar film tipis. Pada film yang tidak diolah, atom timbal yang telanjang tetap terpapar di batas luar, menciptakan jebakan listrik yang menghambat aliran arus. Molekul 4TF kemudian mengikat langsung pada atom timbal yang terpapar, menstabilkan permukaan secara kimiawi dan memperlancar transportasi muatan.Hasil mengesankan ini menunjukkan bahwa meskipun ada berbagai metode dalam pengolahan sel surya, ada ruang untuk inovasi dalam peningkatan efisiensi. Dilema yang dihadapi adalah seberapa mudah metode ini dapat diimplementasikan dalam skala produksi yang lebih besar. Meski metode ini menunjukkan hasil yang menjanjikan di laboratorium, tantangannya ada pada penerapan teknik ini dalam proses industri yang lebih luas. Jika tidak bisa diterapkan secara industri, manfaat dari penelitian ini mungkin tidak dapat diakses oleh masyarakat luas.Bagi generasi muda di Indonesia, kemajuan dalam teknologi sel surya ini berdampak signifikan. Salah satu sektor yang mungkin diuntungkan adalah industri energi terbarukan. Dengan peningkatan efisiensi sel surya perovskite, peluang untuk berinvestasi dalam teknologi energi hijau semakin meningkat. Ini dapat membuka pintu bagi banyak karir baru dalam rekayasa, penelitian, dan pengembangan produk yang berkelanjutan. Di samping itu, harga listrik yang lebih rendah dari penggunaan energi terbarukan bisa menguntungkan masyarakat, terutama jika dikaitkan dengan biaya hidup yang terus meningkat. Keberhasilan ini juga menunjukkan sinyal positif bagi investasi lokal dalam energi terbarukan, yang berpotensi berdampak pada pengurangan ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil.
Perovskite adalah sejenis material yang memiliki struktur kristal tertentu dan banyak diteliti untuk aplikasi dalam sel surya dan perangkat elektronik. Mereka berpotensi untuk penggunaan yang luas karena bisa meningkatkan efisiensi konversi energi matahari menjadi listrik. Meskipun sering dianggap sebagai teknologi baru, perovskite dapat menawarkan kinerja yang lebih baik daripada bahan yang sudah ada, seperti silikon, jika dikembangkan dengan baik. Ini menjadi penting bagi Indonesia untuk terlibat dalam penelitian dan penggunaan perovskite guna mendukung transisi ke energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Dengan penemuan ini, diharapkan lebih banyak penelitian dan pengembangan akan difokuskan pada perovskite dan penerapannya. Indonesia, sebagai negara yang kaya sumber daya alam, memiliki potensi untuk mengembangkan energi terbarukan secara mandiri dan menciptakan lapangan kerja baru. Masyarakat bisa mendapatkan manfaat dari penelitian ini jika pemerintah serta pihak swasta bersatu dalam mendukung inovasi di bidang energi terbarukan.