TLDR
Penelitian menunjukkan bahwa lapisan platinum setebal 24 nanometer dapat melindungi komponen dalam produksi hidrogen secara efektif. Penggunaan lapisan platinum yang lebih tipis dapat mengurangi konsumsi platinum hingga 88%, yang berpotensi menurunkan biaya peralatan. Kualitas coating sangat bergantung pada cara pembuatan dan keseragaman lapisan pada permukaan. Pomodo.id - Penelitian di TU Wien di Austria menunjukkan bahwa penggunaan pelapisan platinum ultra tipis dapat menurunkan biaya produksi hidrogen hingga 88%. Dengan menggunakan pelapisan setebal 24 nanometer pada pelat bipolar titanium yang digunakan dalam elektrolisis air, peneliti menemukan bahwa pelapisan ini mampu melindungi komponen dari kerusakan, sekaligus mempertahankan konduktivitas listrik yang baik setelah mengalami stres elektrokimia. Temuan ini menawarkan peluang untuk mengurangi biaya peralatan yang dibutuhkan dalam proses produksi hidrogen, yang krusial dalam transisi ke energi yang lebih bersih.Proses elektrolisis air menggunakan listrik untuk memecah air menjadi hidrogen dan oksigen. Dalam proses ini, di salah satu elektroda, oksigen, ion hidrogen positif (proton), dan elektron diproduksi. Proton kemudian melewati membran ke elektroda kedua, di mana mereka bergabung dengan elektron untuk membentuk hidrogen. Namun, lingkungan kimia yang dihasilkan oleh elektrolisis dapat merusak banyak komponen logam, menyebabkan logam terlarut dan membentuk lapisan oksida yang dapat menghalangi arus listrik. Oleh karena itu, penggunaan platinum sebagai pelapis menjadi penting untuk menjaga kinerja alat.Meskipun temuan ini menjanjikan, para peneliti menyatakan bahwa ketebalan yang optimal bergantung pada cara pelapisan dibuat dan sejauh mana pelapisan tersebut merata di permukaan. Ada kemungkinan bahwa ada potensi bagi pelapisan dengan ketebalan yang lebih besar untuk memberikan perlindungan lebih baik, meskipun secara cost-efficient, thinner coatings menawarkan solusi yang lebih umi.
Elektrolisis air adalah proses yang memecah air menjadi hidrogen dan oksigen dengan menggunakan listrik. Proses ini sangat penting dalam produksi hidrogen sebagai sumber energi bersih, namun juga berisiko merusak komponen logam yang digunakan. Dengan pendekatan pelapisan platinum ultra tipis, biaya produksi hidrogen bisa berkurang drastis, menjadikannya lebih mudah diakses sebagai energi alternatif. Kondisi ini sangat relevan bagi negara-negara yang sedang berencana mengembangkan penggunaan hidrogen untuk energi terbarukan.
Bagi generasi muda Indonesia, pengembangan teknologi ini membuka peluang yang lebih besar di bidang energi bersih. Mengingat bahwa biaya produksi hidrogen yang lebih rendah dapat mempengaruhi penggunaan teknologi berbasis hidrogen di berbagai sektor seperti transportasi dan industri, peluang kerja baru mungkin muncul. Ini menunjukkan bahwa keterampilan dalam bidang teknologi energi dan keberlanjutan akan semakin dicari di pasar kerja.Jika kita pertimbangkan, biaya produksi hidrogen saat ini masih tergolong tinggi dengan biaya yang mencapai sekitar USD 5 per kilogram. Penurunan tajam hingga 88% ini akan membuat harga mendekati USD 1 per kilogram, jauh lebih terjangkau dan menjadikan hidrogen sebagai pilihan energi yang lebih menarik. Ini sebanding dengan biaya sewa kos bulanan yang berkisar antara Rp1.500.000 hingga Rp2.000.000, menjadikannya pilihan yang lebih realistis bagi masyarakat yang ingin beralih ke energi alternatif yang lebih bersih.Dengan demikian, pengembangan dalam pelapisan platinum ultra tipis membawa dampak besar bagi industri energi di Indonesia. Hal ini tidak hanya mengurangi biaya tetapi juga mempercepat transisi ke energi yang lebih berkelanjutan dan inovatif. Penelitian lebih lanjut dalam teknologi ini dapat mendiversifikasi sumber energi dan mempromosikan lingkungan yang lebih bersih bagi generasi mendatang.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 14 Okt 2026, 21.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)