TLDR
Material baru bernama PhosCage mampu mengekstrak uranium dari air laut dengan efisiensi tinggi. Sumber uranium di lautan sangat besar, mencapai sekitar 4,5 miliar ton. Tantangan utama untuk penerapan teknologi ini adalah biaya dan keberlanjutan dalam skala besar. Pomodo.id - Tim peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences) telah mengembangkan material baru yang disebut PhosCage, yang dapat mengembalikan uranium dari air laut dengan efisiensi tinggi—lebih dari delapan kali lipat dari target yang ditetapkan oleh Departemen Energi AS. Material ini memiliki struktur mirip spons yang dipenuhi dengan kelompok fosfat yang berfungsi sebagai perangkap kimia untuk menangkap uranium dari air laut.Dalam penelitian yang dilakukan oleh Institut Bioenergi dan Bioprocess Teknologi Qingdao, PhosCage mampu mengembalikan hingga 50,4 miligram uranium per gram adsorben dari sampel air laut alami. Ini adalah pencapaian yang signifikan dibandingkan dengan target 6 miligram per gram yang dicapai oleh adsorben terbaik di AS, setelah terpapar air laut selama beberapa waktu. Peneliti mengubah PhosCage menjadi butiran berukuran milimeter, sehingga lebih mudah digunakan dan diimplementasikan dalam sistem yang lebih besar. Butiran ini dapat mengembalikan 22,55 miligram uranium per gram dan tetap berfungsi setelah tujuh kali digunakan.Meskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, ada tantangan teknik dan ekonomi yang signifikan sebelum teknologi ini dapat diterapkan secara komersial. Air laut hanya mengandung sekitar 3,3 miligram uranium per ton, sehingga diperlukan pengolahan air laut dalam jumlah besar untuk mengeksploitasi sumber daya ini secara efektif. Ini membuat biaya dan proses menjadi titik krusial yang perlu ditangani agar PhosCage dapat digunakan secara luas.
PhosCage adalah material baru yang dirancang untuk menangkap uranium dari air laut dengan efisien. Dengan kemampuan untuk mengembalikan 50,4 miligram uranium per gram, material ini menawarkan pendekatan inovatif dalam memperoleh bahan bakar nuklir dari sumber yang berpotensi melimpah—yakni air laut. Misinformasi umum sering kali menyatakan bahwa sumber uranium hanya terbatas pada tambang tradisional, padahal dengan teknologi ini, kita bisa mendapatkan uranium dari sumber yang jauh lebih luas.
Perkembangan ini memiliki dampak signifikan bagi generasi muda di Indonesia. Sektor energi nuklir semakin terbuka dan memerlukan tenaga kerja terampil di bidang teknologi pengolahan dan penelitian energi. Bagi mahasiswa dan lulusan baru, keterampilan terkait penelitian material dan teknik ekstraksi akan menjadi nilai tambah di pasar kerja. Selanjutnya, efisiensi PhosCage dalam ekstraksi uranium dapat berkontribusi pada kebutuhan energi masa depan Indonesia, terutama apabila negara ini ingin mengembangkan kapasitas energi nuklirnya, di tengah ketergantungan terhadap sumber energi fosil.Selain itu, inovasi semacam ini berpotensi mengubah cara Indonesia memandang sumber daya yang tersedia. Dengan semakin banyaknya kebutuhan energi, pendekatan yang inovatif dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya, termasuk uranium, bisa mengarah pada pengembangan lebih lanjut dalam produksi energi berkelanjutan.Di tengah berbagai tantangan dalam pengembangan energi terbarukan, keberhasilan teknologi seperti PhosCage dapat menginspirasi riset lokal untuk eksplorasi sumber daya yang lebih ramah lingkungan di lautan. Generasi muda Indonesia memiliki kesempatan untuk terlibat dalam penelitian dan pengembangan inovasi yang berpotensi merubah lanskap energi di Tanah Air.