TLDR
KIER mencetak rekor efisiensi baru untuk sel surya tandem perovskite/CIGS sebesar 26,7 persen. Tandem sel surya menggabungkan lapisan perovskite dan CIGS untuk menangkap berbagai panjang gelombang cahaya secara bersamaan. Inovasi dalam teknologi pelindung dan elektroda memungkinkan peningkatan efisiensi dan stabilitas sel surya. Pomodo.id - Rekor terbaru dalam efisiensi sel surya telah dicapai oleh para peneliti di Korea Selatan yang berafiliasi dengan Korea Institute of Energy Research (KIER) melalui teknologi sel surya tandem perovskit/CIGS. Dengan efisiensi yang diukur di laboratorium sebanyak 27,0 persen dan sertifikasi resmi efisiensi sebesar 26,7 persen, prestasi ini menunjukkan potensi luar biasa dalam teknologi energi terbarukan. Sel surya tandem menggabungkan lapisan perovskit di atas lapisan CIGS untuk menangkap berbagai panjang gelombang sinar matahari sekaligus, menciptakan perangkat tipis yang ringan dan efisien.Penggunaan sel tandan ini, terutama dalam aplikasi luar angkasa seperti satelit dan pusat data, membuatnya menjadi solusi inovatif untuk mengurangi bobot dan meningkatkan efektivitas pembangkit listrik tenaga surya. Penelitian ini mengatasi batasan efisiensi fisik dari panel surya berbasis silikon dengan mengatasi dan meminimalkan kerugian yang terjadi pada antarmuka antara lapisan perovskit dan CIGS. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga stabilitas sel tersebut, yang menjadi kunci dalam aplikasi jangka panjang.
Sel Surya Tandem Perovskit/CIGS
Sel surya tandem adalah jenis teknologi yang menggabungkan dua jenis bahan untuk meningkatkan efisiensi dalam konversi energi matahari. Dalam konfigurasi ini, lapisan perovskit yang efisien diletakkan di atas lapisan CIGS, memungkinkan penangkapan sinar matahari lebih efektif. Ini penting karena meningkatkan performa energi yang dapat dihasilkan dibandingkan sel surya tradisional.
Meskipun kemajuan ini menjanjikan, ada tantangan yang dihadapi dalam penerapan luas teknologi ini. Misalnya, meskipun hasil penelitian telah dikonfirmasi oleh lembaga terkemuka seperti Fraunhofer Institute di Jerman, implementasi di lapangan mungkin memerlukan waktu dan investasi yang besar untuk pengembangan lebih lanjut dan produksi massal. Keterbatasan tersebut dapat membuat penetrasi pasar di Indonesia, yang telah mengadopsi energi terbarukan, menjadi lebih kompleks.Perkembangan tentang efisiensi sel surya ini menawarkan peluang tidak hanya dalam sektor energi tetapi juga mempengaruhi pekerjaan dan karir di Indonesia. Bidang teknik dan penelitian energi terbarukan dapat menjadi area fokus bagi para mahasiswa dan lulusan baru. Meningkatnya efisiensi ini bisa mendukung kebutuhan Indonesia akan sumber daya energi bersih, sehingga mengurangi ketergantungan pada sumber daya fosil dan membantu mencapai target keberlanjutan yang lebih baik. Impaknya mungkin terlihat dalam bentuk lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan yang sedang berkembang, yang memberikan kesempatan bagi para muda untuk terlibat dalam proyek-proyek inovatif.Dalam konteks yang lebih luas, pencapaian ini tepat waktu dengan meningkatnya kepedulian global terhadap perubahan iklim dan kebutuhan untuk beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Menerapkan teknologi ini di Indonesia berpotensi untuk transformasi industri energi dan menyokong visi negara untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.Dengan perkembangan ini, ada harapan baru untuk potensi karir dan kontribusi para mahasiswa dan profesional muda di bidang yang semakin dicari, selaras dengan tren dunia yang bergerak menuju penggunaan sumber energi terbarukan yang lebih efisien dan berkelanjutan.