TLDR
Galactic Energy berhasil meluncurkan Pallas-1, roket dapat digunakan kembali yang mendukung kemampuan peluncuran komersial China. Pallas-1 dirancang untuk membawa hingga 7 ton ke orbit rendah Bumi dan mampu melakukan hingga 25 penerbangan. Misi ini sejalan dengan rencana jangka lima tahun China untuk menjadi kekuatan luar angkasa. Pomodo.id - Galactic Energy berhasil meluncurkan roket Pallas-1 yang dapat digunakan kembali ke orbit, momen penting bagi sektor peluncuran komersial di Beijing, Tiongkok. Peluncuran ini menandai kemajuan dalam upaya Tiongkok untuk mengembangkan kemampuan peluncuran roket yang dapat digunakan kembali dan mempersempit jarak dengan SpaceX yang didirikan oleh Elon Musk. Roket Pallas-1 yang memiliki dua tahap dan menggunakan bahan bakar cair, lepas landas dari peluncuran yang dibangun sendiri di zona pilot komersial di Jiuquan Satellite Launch Centre, Provinsi Gansu, pada pukul 10 pagi. Roket ini memiliki tinggi 52 meter dengan diameter 3,35 meter dan massa saat lepas landas sekitar 283 ton serta dorongan awal sebesar 350 ton-gaya. Pallas-1 dirancang untuk mengangkut hingga 7 ton ke orbit rendah Bumi dan direncanakan untuk dapat digunakan dalam 25 penerbangan.Meskipun peluncuran ini menjadi langkah maju, Galactic Energy tidak berusaha untuk memulihkan booster pada hari itu. Mereka merencanakan pengujian kontrol masuk, sirip jaring, serta sistem pengereman dan perlambatan sebelum mencoba pendaratan vertikal secara penuh. Upaya awal ini mencakup pemulihan yang terarah di laut atau di darat yang diharapkan dapat mendukung penggunaan kembali secara komersial dalam frekuensi tinggi. Misi ini sejalan dengan dorongan lebih luas dari pemerintah Tiongkok untuk menjadi "kekuatan luar angkasa", sebuah tujuan yang tercantum dalam rencana lima tahun terbaru negara tersebut.
Roket reusable adalah jenis roket yang dirancang untuk bisa digunakan kembali setelah meluncurkan muatannya ke luar angkasa. Hal ini sangat penting karena memungkinkan pengurangan biaya peluncuran, yang bisa mempercepat pengembangan industri luar angkasa secara keseluruhan. Banyak orang mengira bahwa semua roket tidak dapat digunakan kembali, tetapi fakta ini menunjukkan bahwa dengan teknologi yang tepat, roket dapat dioptimalkan untuk misi berulang, mirip dengan bagaimana pesawat terbang beroperasi.
Kejadian ini penting bagi pembaca muda di Indonesia karena mencerminkan kemajuan global dalam teknologi luar angkasa dan potensi peluang di bidang ini. Indonesia, yang memiliki ambisi pengembangan teknologi dan sains, dapat mengambil inspirasi dari pencapaian ini. Tingginya kebutuhan akan inovasi di dalam negeri berarti bahwa keterampilan dalam rekayasa, teknologi informasi, dan sains akan semakin dicari di pasar tenaga kerja. Lulusan yang memiliki pengetahuan dalam teknologi luar angkasa, termasuk desain dan pengelolaan roket, akan menemukan peluang yang menjanjikan.Berinvestasi dalam pendidikan di bidang teknologi dan sains, baik melalui studi formal di universitas atau melalui kursus online, menjadi semakin relevan. Keterampilan ini tidak hanya akan membantu individu dalam karier mereka tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam komunitas global yang semakin berfokus pada riset teknologi, termasuk di bidang luar angkasa. Dengan perkembangan ini, masa depan Indonesia dalam industri teknologi memiliki potensi untuk menjadi lebih inovatif dan bersaing di tingkat internasional.