TLDR
Frekuensi seks tidak selalu mencerminkan keinginan seksual yang sehat dalam suatu hubungan. Seks yang dilakukan tanpa keinginan dapat menjadi bentuk pemeliharaan hubungan, bukan hasil dari keinginan. Kesepakatan untuk melakukan seks yang tidak diinginkan lebih umum daripada yang banyak orang kira. Pomodo.id - Seks dalam hubungan tidak selalu melibatkan hasrat. Temuan dari sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sex & Marital Therapy menunjukkan bahwa perempuan yang didiagnosis dengan gangguan keinginan seksual hipoadaktif, yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengalami hasrat seksual, tetap aktif secara seksual. Menariknya, walau tidak memiliki hasrat, mereka tetap melakukan hubungan seks sekitar dua hingga tiga kali sebulan. Ini mengarah pada istilah baru yang disebut "mercy sex," yang menggambarkan tindakan melakukan hubungan seks untuk menjaga hubungan meskipun tidak ada keinginan.Penelitian tersebut menantang asumsi umum bahwa frekuensi berhubungan seksual adalah indikator keinginan yang sehat dalam sebuah hubungan. Artinya, banyak dari kita yang percaya bahwa jika pasangan masih aktif secara seksual, itu berarti keinginan untuk melakukannya selalu ada. Namun, data menunjukkan bahwa keinginan dan frekuensi dapat terpisah sepenuhnya. Ketika ini terjadi, hubungan seksual tidak lagi merupakan ekspresi dari keinginan, melainkan sebuah cara untuk mempertahankan hubungan. Hal ini bukanlah bentuk paksaan atau kegagalan moral; sebenarnya, seks yang disepakati tetapi tidak diinginkan lebih umum terjadi daripada yang kita kira. Menurut penelitian pada 2024 yang dipublikasikan di Journal of Sex Research, sebagian besar orang mengaku pernah setuju pada seks yang sebenarnya tidak mereka inginkan, bahkan dalam hubungan saat ini.
Mercy sex adalah konsep di mana seseorang melakukan hubungan seksual meskipun tidak ingin melakukannya, biasanya untuk menjaga harmoni dalam hubungan. Ini bukan paksaan, tetapi lebih kepada keinginan untuk tetap menjaga hubungan tetap utuh. Banyak yang keliru mengira bahwa jika pasangan terlibat dalam aktivitas seksual, itu berarti ada keinginan di dalamnya. Ketika kenyataannya adalah bahwa dalam beberapa kasus, seks bisa jadi adalah upaya untuk mempertahankan hubungan, bukan karena keinginan yang kuat.
Implikasi dari temuan ini sangat luas. Bagi kaum muda di Indonesia, hasil penelitian ini membuka pemahaman baru tentang kesehatan hubungan. Dalam masyarakat yang sering kali mengedepankan norma bahwa seks selalu berkaitan dengan keinginan yang kuat, penting untuk menyadari bahwa dinamika hubungan bisa lebih kompleks. Pemahaman tentang mercy sex bisa memandu individu untuk lebih jujur dalam berkomunikasi dengan pasangan mereka tentang keinginan dan harapan dalam hubungan. Pendidikan tentang hubungan sehat dan mekanisme komunikasi yang tepat menjadi semakin relevan, mengadopsi pendekatan yang lebih terbuka dan jujur dalam membangun interaksi dengan pasangan.Kesadaran ini juga dapat mempengaruhi cara orang muda mempersiapkan diri untuk hubungan di masa depan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang variabel yang memengaruhi kepuasan dalam hubungan, mereka dapat mengembangkan keterampilan komunikasi yang lebih baik, yang sangat dicari dalam dunia kerja yang terus berubah saat ini. Keterampilan seperti empati dan kemampuan mendengarkan bisa menjadi komoditas berharga baik dalam konteks hubungan pribadi maupun profesional.Sementara itu, meskipun fokus penelitian ini berasal dari konteks global terutama di Amerika Serikat, hal ini tetap relevan untuk sosial budaya di Indonesia. Kesadaran dan pemahaman tentang mercy sex dapat mendorong diskusi lebih terbuka tentang seksualitas, membantu mengurangi stigma yang kerap mengelilingi topik ini, dan berkontribusi pada kesehatan emosional dan hubungan interpersonal yang lebih baik.