TLDR
Membran baru yang dibuat dari limbah makanan dapat menyimpan dan mengelola panas serta kelembaban secara efisien. Kombinasi biochar, grafena, dan material perubahan fase meningkatkan kinerja penyimpanan energi dan transfer panas. Material ini berpotensi digunakan dalam sistem ventilasi pemulihan energi dan aplikasi bangunan lainnya. Pomodo.id - Membran baru yang dikembangkan oleh para peneliti dapat membantu bangunan menyimpan panas, memindahkannya dengan lebih efisien, dan sekaligus mengelola kelembapan. Membran ini terbuat dari biochar (produk karbon yang dihasilkan dari sampah makanan), graphene, dan bahan perubahan fase yang dirancang khusus untuk manajemen termal dan ventilasi pemulihan energi. Masalah umum dengan bahan perubahan fase adalah kemampuannya untuk menyimpan energi panas saat meleleh, tetapi banyak dari bahan ini memiliki konduktivitas termal yang rendah dan dapat bocor saat dalam bentuk cair. Dengan menggabungkan teknologi ini, peneliti berharap dapat mengatasi tantangan tersebut.Dalam pengembangan membran ini, biochar dihasilkan dengan mengkarbonisasi limbah makanan campuran pada suhu 400 derajat Celcius dan kemudian diaktifkan dengan kalium hidroksida pada suhu yang lebih tinggi, antara 600 hingga 800 derajat Celcius. Penambahan graphene pada membran meningkatkan kinerja termalnya secara signifikan. Khususnya, versi yang diaktifkan pada suhu 700 derajat Celcius menunjukkan hasil yang sangat baik dengan area permukaan yang dicapai sebesar 323,1 meter persegi per gram. Ini berarti banyak ruang untuk menyimpan bahan perubahan fase yang berguna untuk menyimpan dan melepaskan panas saat dibutuhkan.
Biochar adalah produk karbon yang dihasilkan dari pengolahan limbah organik, termasuk limbah makanan, melalui proses pirolisis. Proses ini mengubah materi limbah menjadi bahan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah, menyimpan karbon, dan sekarang digunakan dalam teknologi baru untuk penyimpanan panas. Hal ini penting karena membantu mengurangi limbah makanan dan mengeluarkannya dari tempat pembuangan akhir, sekaligus menciptakan solusi berkelanjutan yang dapat menguntungkan lingkungan.
Kendati ada potensi besar, ada juga tantangan dalam penerapan teknologi ini. Beberapa bahan perubahan fase masih memiliki masalah kegagalan konduktivitas termal yang dapat mengurangi efisiensi. Ini dapat menjadi kendala dalam mekanisme penyimpanan panas yang dirancang untuk bangunan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan stabilitas dan keandalan dari teknologi ini dalam penggunaan sehari-hari.Bagi pembaca muda Indonesia, inovasi ini membuka peluang baru yang signifikan. Penggunaan membran inovatif ini tidak hanya berpotensi mempengaruhi efisiensi energi dalam bangunan, tetapi juga bisa menjadi lapangan kerja baru di bidang teknik material dan desain bangunan berkelanjutan. Dengan banyaknya proyek pembangunan di seluruh Indonesia, pemahaman dan keterampilan dalam teknologi seperti ini akan sangat dicari di pasar kerja yang semakin kompetitif. Memiliki pengetahuan tentang material yang inovatif dan cara kerjanya bisa menjadi keunggulan bagi mereka yang mencari karir di industri konstruksi atau desain arsitektur.Masyarakat Indonesia juga bisa merasakan dampak positif dari pengenalan teknologi ini, terutama dalam konteks pengelolaan energi dan pengurangan biaya. Saat akses ke teknologi yang lebih efisien meningkat, begitu juga harapan untuk mengurangi biaya energi yang dihadapi oleh banyak individu dan bisnis. Mengingat bahwa sumber daya dan biaya energi menjadi salah satu faktor penggerak ekonomi, inovasi seperti ini bisa berarti penghematan signifikan, bukan hanya untuk perusahaan tetapi juga bagi konsumen biasa.