TLDR
Penelitian menggunakan gelombang suara dari petir dapat memetakan geologi bawah tanah. Cables fiber-optic dapat digunakan sebagai sensor seismik untuk mendeteksi perubahan kecil di tanah. Metode ini lebih murah dan lebih mudah dibandingkan survei seismik tradisional, terutama di area perkotaan. Pomodo.id - Para ilmuwan menggunakan gelombang suara yang kuat dari petir untuk menggambarkan geologi di bawah permukaan sebuah universitas besar di Amerika Serikat. Melalui analisis sinyal seismik yang terdeteksi oleh serat optik di bawah kampus Penn State selama dua setengah tahun, tim di bawah pimpinan ahli geofisika Tieyuan Zhu mampu mengidentifikasi lebih dari 450 "gempa petir" dan menggambarkan geologi dangkal di bawah kampus tersebut. Temuan ini memberikan gambaran mengenai area yang mungkin memiliki risiko terjadinya lubang tanah.Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan serat optik yang terpasang di bawah tanah, yang berfungsi dalam telekomunikasi, untuk mengumpulkan data seismik. Serat optik tersebut diletakkan sekitar satu meter di bawah tanah, dan tidak semua serat tersebut digunakan secara aktif. Sejak 2019, para ilmuwan mulai mengeksplorasi penggunaan “serat gelap” ini sebagai sensor seismik. Gelombang tekanan atmosfer dari petir dapat memindahkan energi ke tanah, menyebabkan getaran yang kecil di permukaan. Meskipun getaran ini tidak dapat dirasakan manusia, serat optik yang sangat sensitif dapat mendeteksi pergeseran seismik tersebut dengan meresponsnya melalui sedikit peregangan. Hal ini selanjutnya mempengaruhi waktu perjalanan cahaya dalam kabel, yang memungkinkan peneliti untuk memetakan geologi yang ada di bawah.Terdapat kontradiksi dalam penelitian ini; meskipun penggunaan serat optik untuk memetakan geologi terbukti efektif, tidak semua lokasi bisa dilengkapi dengan infrastruktur serat optik yang sama. Di Indonesia, dengan tantangan geografis dan infrastruktur yang berbeda, implementasi teknologi ini mungkin memerlukan penyesuaian. Selain itu, hasil dari pemetaan ini tidak hanya berdampak pada studi geologi, tetapi juga membuka peluang bagi peneliti dan insinyur untuk mengantisipasi risiko alam seperti lubang tanah yang dapat mempengaruhi infrastruktur.
Teknologi serat optik sangat penting dalam komunikasi modern, karena dapat mentransfer data sebagai pulsa cahaya. Dalam konteks ini, serat optik tidak hanya berperan dalam menjaga konektivitas internet, tetapi juga dapat digunakan untuk penelitian mendalam mengenai geologi dan kajian lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa infrastruktur digital yang sudah ada dapat digunakan lebih maksimal, meskipun sering kali dianggap tidak aktif.
Perkembangan ini memberikan peluang menarik bagi generasi muda Indonesia. Sebagai calon pekerja di bidang teknologi dan sains, keterampilan dalam analisis data dan pemahaman mengenai teknologi sensor dapat meningkatkan daya saing di pasar kerja. Keahlian ini relevan seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk mengelola sumber daya alam, merencanakan pembangunan infrastruktur, dan mengantisipasi risiko yang terkait dengan bencana alam di daerah yang berisiko tinggi.Indonesia, yang memiliki beragam geologi dan risiko bencana, bisa menjelajahi adopsi teknologi serupa dan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada di dalam negeri. Dengan mengadopsi teknologi pemetaan yang inovatif ini, Indonesia dapat lebih proaktif dalam perencanaan pembangunan, serta mengurangi potensi kerugian yang disebabkan oleh fenomena alam.Melalui penggunaan teknologi modern ini, generasi muda di Indonesia dapat memainkan peran penting dalam studi lingkungan dan kebijakan pembangunan berkelanjutan, yang akan membentuk masa depan bangsa menuju ketahanan dan inovasi.