Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Penelitian MIT Ungkap 80% Energi Gempa Bumi Berubah Jadi Panas, Bukan Getaran

Sains
Fisika dan Kimia
physics-and-chemistry (6mo ago) physics-and-chemistry (6mo ago)
16 Sep 2025
44 dibaca
2 menit
Penelitian MIT Ungkap 80% Energi Gempa Bumi Berubah Jadi Panas, Bukan Getaran

Rangkuman 15 Detik

Gempabumi menghasilkan sebagian besar energi dalam bentuk panas.
Sejarah deformasi batuan mempengaruhi kekuatan dan potensi gempabumi di suatu daerah.
Penelitian ini membuka jalan untuk memperkirakan gempabumi di masa depan.
Para geolog dari MIT telah berhasil mengukur keseluruhan energi yang dilepaskan saat gempa bumi—termasuk panas, getaran, dan patahan batuan, dengan menciptakan gempa mini yang dikontrol di laboratorium. Penelitian ini memberikan gambaran baru bahwa hanya sebagian kecil energi gempa menyebabkan guncangan tanah yang kita rasakan. Para peneliti menggunakan batu granit sebagai contoh batuan di lapisan seismogenik dan menambahkan partikel magnetik yang berfungsi sebagai termometer untuk mengukur panas yang dihasilkan saat gempa mini terjadi. Dengan alat canggih dan simulasi tekanan tinggi, mereka bisa mengamati berapa besar panas yang muncul dan membuat batu mencair dalam waktu mikrodetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa getaran hanya menyumbang sekitar 10% dari energi total, patahan batu kurang dari 1%, sementara sisanya sekitar 80% dilepaskan sebagai panas. Fakta bahwa batu bisa mencair sesaat sangatlah mengejutkan dan membuka pemahaman baru tentang proses fisika di pusat gempa. Selain itu, para ilmuwan menemukan bahwa sejarah deformasi batuan—apa yang disebut 'memori' batu—mempengaruhi bagaimana energi gempa didistribusikan. Ini berarti bahwa kondisi sejarah geologis suatu daerah dapat menentukan seberapa kuat dan berbahaya gempa di masa depan. Pengetahuan baru ini bisa membantu ahli geologi dan seismolog untuk memprediksi dan memperkirakan kerusakan gempa dengan lebih akurat, terutama berdasarkan kondisi dan catatan deformasi daerah tertentu, yang sangat penting untuk keselamatan dan mitigasi bencana.

Analisis Ahli

Daniel Ortega-Arroyo
Tekanan dan suhu tinggi saat gempa bisa menyebabkan pelelehan batuan, membuka perspektif baru tentang kerusakan bawah tanah selama gempa.
Matěj Peč
Simulasi laboratorium memungkinkan isolasi fisika gempa yang selama ini sulit dipahami secara langsung di alam.