TLDR
Nuclea Energy mengakuisisi teknologi dari Moltex Energy untuk mengembangkan sistem pendingin nuklir baru. Proses WATSS dapat mengekstrak aktinida transuranik dari bahan bakar nuklir bekas dan mengolahnya menjadi garam cair. Reaktor SSR-W dan FLEX menambah variasi dalam pendekatan pendinginan reaktor nuklir dengan menggunakan garam cair dan neutron thermal. Pomodo.id - Nuclea Energy telah mengakuisisi seluruh teknologi dari Moltex Energy dalam upaya untuk mempercepat pengembangan sistem reaktor nuklir yang lebih ramah lingkungan. Kesepakatan ini dilakukan oleh anak perusahaan Nuclea yang berbasis di Kanada, setelah Moltex mengalami administrasi. Dengan akuisisi ini, Nuclea menggabungkan dua pendekatan berbeda dalam sistem pendinginan reaktor non-air: timbal cair berat dan garam fluorin atau klorida. Meskipun keduanya bersaing, kolaborasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan teknologi pendinginan berbasis cairan, yang semakin penting di era transisi energi saat ini.
Stable Salt Reactor-Wasteburner
Salah satu pencapaian utama dari akuisisi ini adalah pengembangan reaktor Salt Stabil yang disebut SSR-W. Reaktor ini dirancang untuk mengatasi masalah limbah nuklir dengan cara yang inovatif. Berbeda dengan sistem garam leleh yang konvensional, yang memindahkan cairan radioaktif melalui pompa dan pipa eksternal, SSR-W menyimpan garam bahan bakar lelehnya secara tertutup. Hal ini penting karena mengurangi risiko kebocoran radiasi dan memungkinkan pengelolaan limbah yang lebih efisien serta aman. Dengan kemampuan untuk mengolah limbah nuklir menjadi sumber energi yang dapat digunakan kembali, SSR-W menunjukkan potensi signifikan dalam meminimalkan dampak lingkungan dari operasi energi nuklir.
Proses yang dipatenkan oleh Moltex, yang dikenal sebagai Waste to Stable Salt (WATSS), memainkan peran kunci dalam pengelolaan bahan bakar nuklir. Proses ini mengestraksi aktinida transuranik dari bahan bakar bekas dan mencampurnya menjadi garam klorida cair. Metode ini telah diuji secara ekstensif di Canadian Nuclear Laboratories dan telah memperoleh persetujuan dari regulator nuklir Kanada. Pendekatan ini tidak hanya meminimalisir penciptaan plutonium murni tetapi juga memaksimalkan pengambilan energi dari bahan bakar nuklir yang telah digunakan, yang sering kali menyisakan energi yang signifikan.Namun, ada beberapa tantangan yang mungkin dihadapi dalam implementasi teknologi baru ini. Meskipun proses WATSS telah terbukti efektif, skalabilitas teknologi dan adopsi komersialnya di seluruh dunia, termasuk negara-negara yang memiliki infrastruktur nuklir yang kuat seperti AS, masih perlu dievaluasi. Selain itu, keberhasilan SSR-W dalam mengatasi limbah nuklir akan sangat tergantung pada bagaimana investor dan pemerintah mendukung transisi menuju energi bersih dan ramah lingkungan.Akibat dari akuisisi ini, prospek untuk pengembangan energi nuklir yang lebih berkelanjutan di masa depan menjadi semakin cerah. Dengan kedua perusahaan mengkombinasikan keahlian mereka, diharapkan dapat mempercepat inovasi yang akan menghasilkan reaktor yang lebih efisien dan aman. Langkah ini juga mencerminkan tren global menuju pengembangan teknologi energi bersih yang lebih inovatif, yang seharusnya diperhatikan oleh negara-negara yang berkomitmen pada pengurangan emisi karbon, termasuk Indonesia. Indonesia sendiri, sebagai salah satu negara dengan potensi energi besar, dapat mengambil pelajaran dari kemajuan ini untuk mengembangkan alternatif energi yang lebih ramah lingkungan.