TLDR
Teknik pengeditan gen untuk terapi sistem saraf belum sepenuhnya matang untuk uji manusia. Kematian dalam uji coba menunjukkan risiko tinggi yang terkait dengan terapi gen eksperimental. Perlu lebih banyak penelitian sebelum terapi gen dapat dianggap aman untuk digunakan pada manusia. Pomodo.id - Terapi gen untuk sistem saraf mungkin memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat dianggap aman untuk uji coba manusia, terutama setelah insiden tragis yang melibatkan kematian seorang anak di China. Seorang gadis berusia enam tahun terlibat dalam percobaan terapi gen eksperimental di Rumah Sakit Xinhua di Shanghai, yang dirancang untuk mengatasi gangguan otak genetik langka yang menyebabkan keterlambatan perkembangan. Dia meninggal dunia beberapa hari setelah pengobatan, yang melibatkan injeksi partikel virus ke dalam tulang punggungnya untuk "mengubah gen yang bermutasi di neuron" dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan yang dialaminya.Menurut Karoly Nikolich, seorang profesor tambahan di Stanford University School of Medicine, teknik-teknik yang digunakan dalam riset terapi gen untuk hewan sudah cukup mapan, tetapi masih kurang matang untuk studi pada manusia. Hal ini menyoroti kebutuhan mendesak akan protokol keselamatan dan regulasi yang lebih ketat dalam penelitian yang melibatkan terapi gen, terutama untuk populasi rentan seperti anak-anak. Nikolich menambahkan bahwa pengujian pada manusia bisa memakan waktu hingga lima tahun sebelum dapat dimulai, sehingga memberikan waktu bagi pengembangan metode yang lebih aman dan efektif.Meskipun demikian, ada tantangan signifikan yang harus dihadapi. Pengujian yang dilakukan di China sering kali tidak memerlukan persetujuan dari regulator obat, yang dapat menimbulkan risiko akan pelanggaran etika dan kurangnya transparansi dalam penelitian. Insiden kematian anak tersebut telah menggugah perhatian global mengenai pengawasan dan regulasi terapi gen, yang sering dianggap masih kurang memadai. Dalam konteks ini, perlunya pendekatan baru yang lebih ketat untuk mengawasi terapi eksperimental menjadi semakin mendesak, terutama mengingat bahwa penelitian yang tidak diatur dapat membahayakan keselamatan pasien.
Terapi gen adalah metode pengobatan yang bertujuan untuk mengubah atau memperbaiki gen yang bermutasi dalam tubuh untuk mengatasi penyakit genetik. Meskipun membawa harapan untuk mengobati berbagai kondisi, terapi gen harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari risiko kesehatan seperti reaksi imun yang serius. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan protokol keselamatan terpenuhi sebelum terapi ini diuji pada manusia.
Ke depan, insiden ini kemungkinan akan berdampak pada bagaimana terapi gen diteliti dan diterapkan, tidak hanya di China tetapi juga di negara-negara lain termasuk Indonesia. Dengan banyaknya perkembangan dalam bidang bioteknologi, penting bagi para peneliti dan regulator di Indonesia untuk mempertimbangkan pelajaran yang dapat diambil dari kasus ini. Melihat bahwa industri terapi gen sedang berkembang pesat, pengawasan yang lebih ketat dan regulasi yang jelas dapat membantu mencegah kejadian serupa berulang dan mempertahankan integritas penelitian medis.