TLDR
Seorang ilmuwan di Shanghai Jiao Tong University sedang diselidiki setelah kematian seorang anak akibat terapi pengeditan gen. Gadis berusia enam tahun mengalami reaksi imun yang fatal setelah menerima perawatan eksperimental. Rumah sakit terkait membayar denda kecil tetapi tidak ada sanksi publik terhadap ilmuwan yang terlibat. Pomodo.id - Ilmuwan terkemuka dari Shanghai Jiao Tong University sedang dalam penyelidikan setelah laporan tentang kematian seorang anak berusia enam tahun yang diduga terjadi akibat pengobatan terapi gen percobaan. Anak tersebut, yang bernama Mei, dilaporkan meninggal dunia beberapa hari setelah menerima perawatan yang dirancang untuk memperbaiki mutasi genetik yang mempengaruhi perkembangan sarafnya. Peristiwa tragis ini terjadi pada bulan Maret tahun lalu, dan rincian lebih lanjut terungkap dalam laporan yang diterbitkan oleh Science setelah investigasi bersama dengan Retraction Watch, sebuah organisasi nirlaba yang memantau penelitian yang telah dicabut.Mei mengalami reaksi imun fatal yang dikaitkan dengan pengobatan tersebut. Dalam proses pengobatan, tim medisnya telah menginfuskan triliunan virus yang membawa resep untuk melakukan editing gen ke dalam cairan tulang belakangnya. Tujuh hari setelah prosedur ini, Mei meninggal dunia akibat reaksi imun yang parah yang tampaknya berhubungan dengan terapi yang diterimanya. Saat ini, Qiu Zilong, seorang ilmuwan saraf yang memimpin percobaan ini, serta rumah sakit Xinhua yang terafiliasi dengan universitas tersebut, menghadapi dampak dari kejadian ini. Rumah sakit tersebut sebelumnya dikenakan denda kecil oleh otoritas kesehatan setempat, namun Qiu tidak menghadapi hukuman publik pada saat itu.
Base editing adalah teknologi pengeditan gen yang memungkinkan modifikasi spesifik DNA dengan tujuan memperbaiki mutasi genetik yang terkait dengan berbagai penyakit. Metode ini berpotensi menjadi solusi untuk anak-anak dengan penyakit langka namun juga menimbulkan kekhawatiran etis dan medis. Perlu diklarifikasi bahwa meskipun base editing menunjukkan janji untuk terapi gen, masih ada risiko kerusakan atau efek samping yang tidak terduga, yang dapat berpotensi membahayakan pasien, seperti yang dialami Mei.
Keputusan untuk menggunakan terapi gen semacam ini jelas tidak kekurangan kontroversi. Perlu adanya evaluasi yang lebih mendalam mengenai keamanan dan efektivitas metode ini, terutama pada populasi anak-anak yang lebih rentan terhadap komplikasi. Penyelidikan oleh Shanghai Jiao Tong University adalah langkah penting dalam mengevaluasi tanggung jawab ilmiah dan etis dari pengobatan yang diberikan serta implementasi teknologi baru. Observasi yang ketat terhadap prosedur masa depan akan sangat penting untuk melindungi keselamatan pasien.Kejadian ini tidak hanya memiliki implikasi untuk penelitian dan pengembangan teknologi medis tetapi juga menyoroti kebutuhan mendesak untuk regulasi yang lebih ketat dalam eksperimen terapi gen. Kita perlu memastikan bahwa semua percobaan dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan perlindungan maksimal bagi subjek percobaan, terutama ketika anak-anak menjadi bagian dari proses tersebut. Ke depan, penelitian di lapangan terapi gen harus mengikuti panduan etis yang lebih kuat dan memprioritaskan keselamatan serta kesejahteraan pasien di atas semua kekuatan inovasi ilmiah.