TLDR
Pentingnya kepemilikan dan kepercayaan pada alat AI dalam organisasi kesehatan. Membeli solusi AI mungkin bukan jawaban, karena kesalahan yang sama dapat terjadi dengan alat baru. Organisasi harus memastikan bahwa alat AI yang dibangun memiliki pemilik dan dukungan agar dapat digunakan secara efektif. Pomodo.id - Sebagian besar rumah sakit memiliki alat kecerdasan buatan (AI) yang dibangun oleh tim internal, tetapi mayoritas dari alat tersebut tidak digunakan. Kasus ini bukan hal yang asing dalam sistem kesehatan, terutama ketika melihat bagaimana alat yang tampaknya menjanjikan, setelah diperkenalkan ke dewan direksi dan dipresentasikan di konferensi, malah dibiarkan tak terurus. Selama delapan belas bulan setelah peluncurannya, alat tersebut masih berfungsi, namun tidak ada yang memiliki tanggung jawab atasnya, dan tidak ada yang bisa menjelaskan kapan kepercayaan terhadap alat itu mulai menurun. Pengalaman ini mengindikasikan bahwa ada lebih dari sekadar isu "beli" versus "bangun" yang menyebabkan kegagalan implementasi AI di rumah sakit.Sebuah studi menunjukkan bahwa banyak organisasi yang beranggapan bahwa masalah utama terletak pada pendekatan yang digunakan, dan sering kali berakhir dengan keputusan untuk membeli solusi AI daripada membangunnya sendiri. Namun, hal ini tidak selalu menyelesaikan masalah. Sebuah pemikiran yang keliru adalah berasumsi bahwa membeli perangkat lunak dari pihak ketiga otomatis menjamin penggunaan yang baik. Faktanya, banyak rumah sakit yang menghadapi tantangan serupa setelah mengadopsi alat yang dibeli dari luar, sama seperti ketika mereka mencoba untuk membangun sistem AI sendiri. Studi menunjukkan bahwa tanpa adanya kepemilikan yang jelas dan pelatihan yang tepat, baik alat yang dibangun sendiri maupun yang dibeli tidak akan mendapat kepercayaan dari pengguna.Salah satu penjelasan mengapa kegagalan alat AI ini berulang kali terjadi adalah kurangnya keterlibatan pengguna dan pemangku kepentingan dari awal pengembangan hingga implementasi. Ketika hanya tim yang terpisah yang terlibat dalam pengembangan, pengguna akhir — dalam hal ini, tenaga kesehatan yang akan menggunakan alat tersebut — sering merasa terputus dari proses. Akibatnya, mereka enggan untuk menggunakan alat tersebut, menganggapnya kurang relevan atau tidak bermanfaat bagi pekerjaan mereka. Ketidakcocokan antara alat yang dikembangkan dan kebutuhan praktis di lapangan menjadi tantangan besar dalam penerapan teknologi ini.
AI dalam kesehatan merujuk pada teknologi kecerdasan buatan yang diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan kesehatan. Hal ini mencakup penggunaan algoritme untuk menganalisis data bagi diagnosis pasien, perencanaan pengobatan, dan pengelolaan informasi. Meskipun beberapa orang menganggap bahwa alat AI akan sepenuhnya menggantikan tenaga medis, realitasnya adalah bahwa AI seharusnya berfungsi sebagai alat bantu yang meningkatkan kualitas layanan kesehatan, bukan sebagai pengganti tenaga kesehatan.
Jika tren ini tidak diatasi, akan ada dampak signifikan terhadap kemampuan rumah sakit untuk memanfaatkan alat teknologi yang dapat meningkatkan layanan pasien. Merupakan keharusan bagi manajemen rumah sakit untuk melibatkan seluruh bagian dari tenaga kesehatan dalam proses pengembangan dan implementasi alat AI. Ini dapat meningkatkan kepercayaan dan adopsi alat, sehingga para tenaga medis merasa lebih nyaman dan yakin dalam menggunakan teknologi ini.Perlu dicatat bahwa pasar alat AI di sektor kesehatan tidak hanya terbatas di Amerika Serikat, tetapi juga memiliki relevansi untuk Indonesia. Dengan meningkatnya diskusi mengenai inovasi layanan kesehatan, penting bagi Indonesia untuk mencermati pelajaran dari pengalaman negara lain. Investasi yang tepat dan pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan praktis di lapangan akan menjadi kunci untuk suksesnya implementasi alat AI di rumah sakit sambil mengatasi tantangan yang ada.