TLDR
Ratu mole-rat telanjang menggunakan bau untuk mengendalikan koloni dan mengatur perilaku sosial anggota lainnya. Isopropil miristat dapat menekan aktivitas seksual dan mencegah pertarungan dalam koloni mole-rat telanjang. Koordinasi sosial dan perilaku reproduksi dalam koloni mole-rat telanjang menunjukkan tingkat kompleksitas yang jarang ditemui di antara mamalia. Pomodo.id - Ratu tikus gundul memiliki kemampuan unik dalam mengatur perdamaian dan reproduksi dalam koloni mereka. Penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature pada 15 Juli menunjukkan bagaimana senyawa kuat yang dihasilkan oleh ratu tikus gundul dapat mencegah perkelahian dan aktivitas reproduksi di antara anggota koloni lainnya. Senyawa ini, yang dikenal sebagai isopropyl myristate, memengaruhi sistem penciuman tikus gundul dan menghentikan perilaku agresif serta reproduksi hingga ratu dan aromanya hilang.Tikus gundul hidup dalam masyarakat kooperatif di mana hanya satu betina, yaitu ratu, yang dapat berkembang biak sementara anggota lain bertugas mencari makanan dan merawat anak-anak. Ratu mempertahankan statusnya dengan menekan aktivitas seksual individu lain. Ketika ratu mati, anggota koloni dengan pangkat tinggi akan mulai aktif secara seksual dan akan berjuang untuk merebut posisi ratu yang baru. Dalam sebuah percobaan, peneliti menyuntikkan isopropyl myristate ke koloni setelah mengeluarkan ratu, dan hasilnya selama tiga bulan tidak ada perkelahian atau aktivitas seksual yang terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa tersebut memiliki kekuatan signifikan dalam mengendalikan dinamika sosial dan reproduksi dalam koloni.Namun, ada batasan pada eksperimen ini. Dalam konteks yang lebih luas, perlu diakui bahwa meskipun isopropyl myristate berhasil menciptakan suasana damai, hanya ketidakhadiran ratu yang memungkinkan individu lain untuk bereproduksi dan berperilaku agresif. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah kontrol semacam itu cukup kuat untuk bertahan dalam situasi yang lebih kompetitif, terutama jika individu dari koloni lain diperkenalkan atau jika ratu baru muncul.Temuan ini memiliki implikasi penting bagi penelitian tentang perkembangan sosial dan perilaku hewan. Memahami bagaimana senyawa biologis dapat memengaruhi interaksi sosial dan reproduksi dapat membantu ilmuwan dalam menjelaskan dinamika kelompok lain, termasuk yang relevan dalam konservasi dan pemeliharaan spesies yang terancam punah. Dalam konteks Indonesia, informasi tentang perilaku sosial hewan bisa menjadi penting untuk memahami pengendalian spesies lokal dan menyusun strategi pelestarian yang efektif.
Isopropyl myristate adalah senyawa kimia yang diproduksi oleh ratu tikus gundul untuk memengaruhi hormon dan perilaku sosial di dalam koloni. Senyawa ini, meski tidak tercium oleh manusia, memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas koloni dengan menghambat reproduksi betina lainnya. Hal ini menjelaskan mengapa hanya satu betina dalam koloni yang memiliki kesempatan untuk bereproduksi pada satu waktu, sesuatu yang sering kali membingungkan para peneliti sebelumnya.
Dengan memahami lebih lanjut tentang mekanisme di balik perilaku sosial ini, tidak hanya akan memberikan wawasan tentang tikus gundul, tetapi juga dapat menawarkan perspektif baru dalam bidang penelitian lain terkait interaksi sosial dalam spesies hewan lainnya. Ini bisa menjadi langkah penting dalam menjaga biodiversitas dan keseimbangan ekosistem, terutama di negara kaya biodiversitas seperti Indonesia.