TLDR
Serangan terbaru mengakibatkan kerugian lebih dari 1.367 bitcoin dari ribuan alamat. Ada kelemahan pada versi firmware dari Maret 2021 yang memungkinkan pencurian kunci. Metode baru yang digunakan oleh penyerang lebih sulit untuk dilacak dibandingkan dengan metode sebelumnya. Pomodo.id - Pada tanggal 30 Juli 2023, terjadi serangan siber yang signifikan yang mengakibatkan pencurian lebih dari 1.000 bitcoin dari dompet pengguna Coldcard, sebuah dompet perangkat keras khusus untuk penyimpanan Bitcoin yang dibuat oleh perusahaan asal Kanada, Coinkite. Serangan ini menyebabkan kerugian hampir $70 juta atau sekitar Rp1 triliun, berkat adanya celah pada firmware Coldcard yang memungkinkan pelaku mencuri kunci dompet pengguna.Dilaporkan, selama serangan itu, sekitar 1.082,65 BTC dicuri dari 1.196 alamat dompet dalam rentang waktu 41 menit, antara pukul 01:10 hingga 01:51 UTC. Serangan yang terdokumentasi ini juga mencatat bahwa transaksi dilakukan dalam batch yang menunjukan adanya strategi pengelolaan yang lebih baik oleh penyerang. Kelemahan itu terdeteksi pada firmware Coldcard yang dirilis pada Maret 2021, yang tidak menggunakan generator angka acak secara efektif. Sebagai akibatnya, angka acak yang dihasilkan untuk kunci dompet menjadi dapat diprediksi, memungkinkan peretas untuk memperkirakan dan menciptakan kembali kunci dompet milik pengguna.Di sisi lain, pimpinan Coinkite, NVK, segera merespons dengan merilis pembaruan firmware darurat untuk semua model yang terkena dampak. Namun, meski perangkat tersebut diperbarui, pengguna yang terpengaruh masih diingatkan untuk membuat kunci baru, karena pembaruan firmware tidak memperbaiki kunci lama mereka yang sudah terexpose. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perbaikan dilakukan, pengguna tetap berada dalam resiko tinggi dan harus segera memindahkan dana mereka ke dompet baru yang aman.Namun, penting untuk dicatat bahwa meskipun serangan ini menimbulkan kerugian yang signifikan, ada perdebatan mengenai tingkat ancaman yang ditimbulkan oleh celah ini. Jika dibandingkan dengan pelanggaran besar lainnya, kemasan serangan ini dianggap relatif lebih kecil, tetapi keefektifan metode yang digunakan oleh penjahat siber menyoroti kerentanan yang ada. Ini menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut mengenai keamanan dompet perangkat keras, yang seharusnya menawarkan perlindungan maksimal bagi pengguna dengan menyimpan kunci secara offline. Hal ini menimbulkan keraguan tentang reliabilitas metode penyimpanan mandiri atau self-custody yang selama ini diyakini aman.
Coldcard adalah dompet perangkat keras yang dirancang secara khusus untuk menyimpan Bitcoin dengan aman. Produk ini dibuat oleh Coinkite dengan tujuan utama memungkinkan pengguna untuk melakukan penyimpanan mandiri terhadap aset digital mereka. Meskipun dirancang untuk meningkatkan keamanan, kelemahan pada proses pembuatan kunci mengungkap potensi risiko bagi pengguna. Banyak yang keliru beranggapan bahwa perangkat keras sepenuhnya aman, padahal ketergantungan pada firmware yang rentan dapat mengekspos dana pengguna pada risiko pencurian.Merujuk pada kasus ini, dampak bagi pemegang Bitcoin di Indonesia juga relevan, mengingat semakin banyaknya individu dan bisnis yang mulai beralih ke aset digital. Dan seiring pertumbuhan pengguna dompet cryptocurrency di Indonesia, penting bagi pengguna untuk memastikan perangkat yang mereka gunakan tidak hanya sekadar perangkat keras biasa, tetapi juga aman dari segala potensi kerumitan teknis baik di dalam maupun luar negeri. Seiring dengan meningkatkan kesadaran akan keamanan siber, pelajaran dari insiden ini menegaskan pentingnya corak perlindungan yang kuat dalam manajemen aset digital.