TLDR
GRETA berhasil menyelesaikan pengujian awal dan siap beroperasi sebagai instrumen utama di FRIB. Data yang dikumpulkan oleh GRETA akan membantu memperbaiki model teoretis inti atom dalam penelitian fisika nuklir. Sistem ini akan digunakan untuk mempelajari isotop jangka pendek yang dihasilkan dari tabrakan ion berat. Pomodo.id - GRETA, atau Gamma-Ray Energy Tracking Array, merupakan sistem deteksi sinar gamma generasi terbaru yang baru saja menyelesaikan uji karakterisasi pertama di Michigan, Amerika Serikat. Alat ini dirancang untuk memperbaiki upaya keamanan nasional AS dan bertujuan untuk memungkinkan para peneliti memetakan struktur subatom dengan presisi yang belum pernah ada sebelumnya. GRETA mendeteksi sinar gamma yang dipancarkan ketika inti atom bertabrakan dan meluruh, memberi ilmuwan wawasan langsung tentang kekuatan yang menyatukan inti atom.Pada pengujian awal yang dilakukan di Facility for Rare Isotope Beams (FRIB) di Universitas Michigan, GRETA memenuhi semua target kinerja utama. Sistem ini menggunakan kristal semikonduktor germanium murni tinggi yang dilengkapi dengan kontak listrik tersegmentasi. Ketika foton energi tinggi mengenai kristal ini, perangkat khusus mencatat pulsa listrik ini secara real-time. GRETA mampu menghitung koordinat tiga dimensi dari titik benturan foton, sehingga dapat membedakan sinyal lemah dari kebisingan elektronik di latar belakang, yang sangat penting untuk mengkaji isotop langka dan berumur pendek.
Deteksi sinar gamma adalah proses pengamatan radiasi yang dihasilkan dari peluruhan inti atom. Sinar gamma ini mempunyai energi yang sangat tinggi dan dapat memberikan informasi berharga tentang struktur inti atom. Umumnya, perangkat deteksi tradisional hanya mengukur total energi dari foton yang masuk ke dalam satu blok detektor. Namun, GRETA memperkenalkan pendekatan baru yang lebih canggih dengan mampu melacak posisi sinyal foton dengan akurasi tinggi, yang sangat penting dalam penelitian nuklir modern.
Meskipun GRETA berhasil mencapai semua target kinerja dalam pengujian awal, ada tantangan yang dihadapi. Keterlibatan berbagai lembaga dan laboratorium nasional dalam pembangunan GRETA menunjukkan besarnya koordinasi yang diperlukan dalam penelitian ilmiah tingkat lanjut. Dengan berbagai kompleksitas ini, masih ada potensi pergeseran dalam pengembangan teknologi serupa di masa depan.Perkembangan ini mempunyai implikasi yang signifikan ke depan, terutama untuk proyek penelitian dan pengembangan di bidang nuklir. GRETA dapat meningkatkan pemahaman kita tentang interaksi dalam inti atom, yang pada gilirannya berpotensi membawa kemajuan di bidang energi nuklir. Dalam konteks Indonesia, kemajuan seperti ini dapat menginspirasi penelitian lokal dalam fisika nuklir dan aplikasinya dalam pengembangan energi berkelanjutan di masa mendatang.Dengan penerapan teknologi canggih seperti GRETA, peneliti di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, diharapkan dapat mengambil langkah lebih maju dalam memahami materi dan menggali potensi isotop langka, yang sangat penting baik untuk penelitian ilmiah maupun aplikasi industri.