AI summary
Teknologi deteksi baru dapat mempercepat proses dekomisioning pembangkit nuklir. Penggunaan detektor scintillation memungkinkan pemetaan kontaminasi yang lebih akurat dan efisien. Integrasi AI dalam sistem dapat meningkatkan akurasi deteksi dengan memisahkan radiasi latar belakang dari kontaminasi. Para peneliti Jerman berhasil mengadaptasi teknologi yang biasanya digunakan di teleskop luar angkasa untuk memudahkan pendeteksian radiasi di pembangkit listrik nuklir yang akan dibongkar. Ini penting karena proses pengecekan kontaminasi radioaktif selama ini sangat lambat dan membahayakan pekerja.Teknologi ini menggunakan kamera khusus dengan kristal scintillation yang akan menyala saat terkena radiasi gamma. Dari sinyal ini, sistem bisa menentukan arah dan energi radiasi yang berasal dari berbagai titik di ruangan, sehingga bisa membuat peta radiasi tiga dimensi.Berbeda dengan alat pengecek konvensional yang membutuhkan pendinginan sangat dingin, alat baru ini lebih ringan dan tidak perlu kondisi khusus seperti itu, membuat proses inspeksi lebih cepat dan efisien di lapangan.Data yang dikumpulkan selama beberapa jam kemudian diproses dengan bantuan superkomputer agar kita bisa melihat secara jelas area mana yang terkontaminasi dan mana yang tidak, sehingga bisa diolah secara tepat dan aman.Tim peneliti juga berencana menambahkan teknologi kecerdasan buatan untuk menghilangkan gangguan dari radiasi alami yang ada di mana-mana, supaya hasil deteksi jadi lebih akurat dan mudah dipisahkan antara radiasi berbahaya dan yang alami.
Teknologi ini merupakan lompatan besar dalam pengelolaan sampah nuklir dan perlindungan lingkungan karena memanfaatkan metode dari astronomi luar angkasa yang sangat inovatif. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi risiko kesehatan bagi pekerja, tetapi juga bisa jadi standar baru global dalam dekomisioning nuklir.