TLDR
Kucing bertaring saber mungkin mengalami penyakit tulang belakang karena inbreeding di akhir masa mereka. Tingkat tumor tulang belakang di kucing bertaring saber jauh lebih tinggi dibandingkan dengan manusia dan anjing modern. Penurunan keragaman genetik akibat populasi yang menyusut dapat menjadi faktor kontribusi terhadap kepunahan spesies. Pomodo.id - Kelainan tulang belakang pada kucing bertaring sabre menjadi sorotan dalam penelitian terbaru mengenai penyebab kepunahan spesies ini. Peneliti menemukan bahwa spesies Smilodon fatalis, yang terkenal sebagai kucing bertaring sabre, memiliki tingkat kelainan tulang belakang yang tinggi yang terpreservasi dalam fosil di La Brea Tar Pits, California. Temuan ini mengindikasikan bahwa ada kemungkinan kerentanan yang disebabkan oleh inbreeding saat populasi kucing ini mulai menyusut. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Veterinary Science pada 27 Juli, disebutkan bahwa kelainan ini termasuk tumor yang biasanya jarang ditemukan pada hewan.La Brea Tar Pits merupakan lokasi unik di Los Angeles di mana minyak mentah dalam bentuk aspal muncul ke permukaan, menciptakan kolam yang penuh dengan tar. Selama ribuan tahun, berbagai spesies, termasuk Smilodon, terjebak dalam cairan lengket ini dan terawetkan dengan sangat baik. Penelitian yang dilakukan oleh Hugo Schmökel, seorang ahli bedah hewan, dan timnya menganalisis vertebra Smilodon yang ditemukan di koleksi tersebut. Schmökel menjelaskan bahwa setelah pengamatannya, ada indikasi penyakit pada tulang belakang yang mempertanyakan kesehatan populasi kucing bertaring ini.
Smilodon fatalis, atau kucing bertaring sabre, adalah spesies kucing purba yang hidup pada masa Pleistosen. Ia terkenal dengan gigi taring besar dan merupakan predator yang dominan pada zamannya. Ketika populasi Smilodon mengecil, masalah kesehatan seperti kelainan tulang belakang dan tumor mulai muncul sebagai hasil dari inbreeding. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik dan kesehatan dapat berkontribusi pada kepunahan spesies. Mispersepsi umum adalah bahwa kepunahan ini sepenuhnya disebabkan oleh perubahan lingkungan atau predator lainnya, padahal kesehatan populasi juga memainkan peran penting.
Meskipun dihadapkan pada masalah kesehatan, ada faktor lain yang juga harus dipertimbangkan. Penurunan populasi Smilodon dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kompetisi dengan predator lain dan perubahan lingkungan akibat perubahan iklim. Kemungkinan bahwa Smilodon berjuang untuk mendapatkan makanan dan tempat bertahan hidup di tengah transisi ini memperburuk kesehatan mereka, yang tampaknya dipengaruhi oleh kelainan tulang belakang yang tinggi.Kedepannya, temuan ini memperluas pemahaman kita terhadap faktor-faktor yang menyebabkan kepunahan spesies dan menyoroti pentingnya penelitian lebih lanjut dalam bidang paleopatologi, yaitu studi tentang penyakit pada hewan purba. Ini juga mendesak kita untuk memperhatikan dampak genetik dalam keberlangsungan hidup spesies di masa mendatang, terutama di tengah lingkungan yang semakin berubah. Penelitian tentang kelainan tulang belakang pada Smilodon fatalis membuka jalan bagi upaya konservasi pada spesies saat ini, dengan mengingat bagaimana kesehatan individu dapat mempengaruhi populasi secara keseluruhan.